HOSPITALITAS

Rabu, 24 September 2014

HOSPITALITAS
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Lukas 19:5)

Ada satu Isu yang saat ini makin sering dibahas dalam diskusi teologi
Kekristenan: hospitalitas. Hospitalitas merupakan terjemahan dari istilah
hospes’ (Latin) yang berasal dari dua kata yaitu ‘hostis’ (orang sing/musuh)
dan ‘pets’ (memiliki kuasa). Di dalam Bahasa Yunani, hospitalitas disebut ‘philoxenia’ yang berarti menjadi sahabat bagi orang asing. Terkadang hospitalitas menjadi hal yang berbahaya bagi orang yang mempraktekkannya, karena kita tidak pernah tahu bagaimana respon orang asing setelah diperlakukan seperti itu. Bisa saja hospitalitas kita ditolak atau bahkan dimanfaatkan oleh mereka.

Contoh yang paling sering dikupas ketika sedang membahas hospitalitas adalah kisah ketika Zakheus bertemu dengan Yesus (Lukas 19:1-10). Banyak sekali orang yang membenci dia karena pekerjaannya yang dianggap kotor. Mungkin kebencian orangorang terhadap Zakheus sama dengan kebencian kita terhadap para koruptor, tukang palak dan pungli, serta orang-orang yang haus kekayaan dan menimbun kekayaan dengan cara tidak halal. Akan tetapi setelah bertemu dengan Yesus, dia yang sehariharinya menjadi pemeras bisa berubah 180 derajat. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab pertobatannya adalah karena dia merasakan hospitalitas dari Yesus. Walaupun Zakheus adalah orang asing yang dijauhi dan dibenci banyak orang, namun Yesus justru mau menumpang di rumahnya. Yesus tidak menginap di penginapan, tidak pula di rumah ‘orang baik’, tapi dia memilih untuk tinggal bersama Zakheus yang dianggap penuh dosa. Yesus tidak peduli akan resiko yang dia hadapi
akibat pilihan tersebut. Small gesture semacam ini pastilah membuat hati Zakheus tersentuh sehingga tergugah dan pada akhirnya mau mengubah diri menjadi orang yang lebih baik.

Hospitalitas dalam Kekristenan bukanlah sebatas keramahan yang sering diperlihatkan oleh para petugas di hotel dan restoran. Akan tetapi suatu sifat kepedulian yang murni dan berasal dari dorongan Roh Kudus untuk menjadi sahabat orang-orang asing di sekitar kita—apapun dosanya. Hanya melalui hubungan personal di dalam persahabatanlah kita dapat menjangkau orang yang terhilang. Hati yang tersentuh oleh hospitalitas akan menjadi ladang yang subur untuk menerima kebenaran. (II)

Refleksi :
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. (lukas 19:10)