MENGHARGAI KASIH KARUNIA ALLAH

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil
usahamu, tetapi pemberian Allah”
(Efesus 2:8)

Amazing Grace, how sweet the sound, That saved a wretch like me…. “Amazing Grace” adalah sebuah himne Kristen yang paling terkenal di dunia. Liriknya ditulis oleh penyair Inggris yang juga seorang pendeta bernama John Newton (1725-1807). Lagu Amazing Grace ini membawa pesan bahwa hanya pengampunan dan penebusan yang memungkinkan orang terlepas dari dosa - dosa dan bahwa jiwa dapat dibebaskan dari keputusasaan melalui kasih karunia Allah. Keselamatan yang kita peroleh sebagai orang percaya bukanlah hasil dari perbuatan kita tetapi karena iman dan kasih karunia Tuhan.

Rasul Paulus sangat membenci kekristenan dan ia berupaya untuk memburu serta membunuh para pengikut Yesus. Namun bukan karena perbuatan Paulus, ia memperoleh kasih karunia Tuhan. Dalam sekejap hidupnya berubah haluan menjadi Rasul Yesus Kristus. Kasih karunia berarti kita yang sebenarnya tidak layak (karena dosa), menjadi layak di hadapan Tuhan (Bnd. Roma 3:22, 6:23). Kasih karunia memampukan kita menjalani hidup ini dengan luarbiasa, hal yang kita tidak mungkin bisa kita kerjakan dapat kita capai dengan pertolongan Tuhan.Keselamatan bukan datang karena inisiatif kita berbuat baik kepada Allah. Keselamatan datang karena inisiatif Allah yang memberikan cinta kasih-Nya secara cuma-cuma. Siapapun yang menerimanya dalam iman, ia menyambut dan menerima kasih karunia itu. Amazing Grace! Kita orang-orang berdosa yang seharusnya dihukum & dimurkai oleh Allah (Ef 2:-5) diselamatkan oleh kemurahan-Nya. Bukan karena perbuatan baik kita, tapi karena kasih karunia-Nya semata.

Pertanyaannya, bagaimana sikap kita menyambut kasih karunia yang berharga itu? Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang mati martir karena melindungi warga Yahudi dari serangan pasukan Nazi pernah menuliskan bahwa sikap seseorang menyambut kasih karunia Allah bisa dengan cheap grace atau costly grace. Ada orang yang menganggap remeh kasih karunia Allah tanpa sikap pertobatan dan penyembahan kepada Allah (cheap grace). Ada yang ingin “membalas” kasih karunia Allah yang sangat berharga dan mahal dengan hidup menyenangkan hati Allah (costly grace). Bagaimana kita menjalani hidup ini dan sejauh apa kualitas iman kita menunjukkan bagaimana kita menghargai kasih karunia Allah.(YG)
Refleksi:
Sudahkah kita menyambut & menghargai kasih karunia Allah yang sangat mahal dan tak terbayar dengan melakukan setiap pekerjaan baik yang Allah percayakan dalam hidup kita?