PENGAMPUNAN

“di dalam DIA kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”
(Kolose 1:14)

Ketika terjadi perang dunia kedua, Corrie ten Boom dan keluarganya ditangkap dan dikirimkan ke tempat tawanan Nazi atas tuduhan menyembunyikan orangorang Yahudi di tempat mereka. Di tempat tawanan mereka disiksa secara kejam. Akibatnya, ayah dan saudara perempuan Corrie meninggal di tempat tawanan tersebut, dan Corrie pulang seorang diri ke rumah. Setelah perang berakhir, ia pergi ke Jerman untuk berkhotbah. Usai berkhotbah khusus tentang pengampunan, seorang pria paling kejam di Raversbruck, tempat ia dan saudara perempuannya disiksa mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Aku telah menjadi Kristen”, ia menjelaskan. “Aku tahu bahwa Tuhan telah mengampuniku untuk hal-hal kejam yang pernah kulakukan. Tetapi aku juga ingin mendengar hal itu dari mulut anda. Maukah Anda mengampuniku?” Konflik bergejolak di hati Corrie. Bayangan jenazah saudara perempuannya terihat dibenaknya. Ia ingin berteriak,”Yesus, aku tidak dapat mengampuni orang ini, tolonglah aku.” Namun akhirnya ia memutuskan untuk mengampuni pria tersebut. la mengulurkan tangannya kepada pria itu dan berkata, “Aku mengampunimu Saudara, dengan segenap hatiku.”

Menyimak kisah Yusuf dan saudara-saudaranya harusnya juga refleksi kehidupan kita. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa untuk memaafkan bukanlah semudah teori-teori ataupun khotbah-khotbah. Namun apapun alasan yang boleh kita sampaikan, kisah dari Yusuf mengingatkan kita bahwa pengampunan bukanlah seperti hukum ataupun aturan yang harus atau tidak, mau atau tidak mau untuk dilakukan, namun mengampuni adalah gaya hidup orang yang percaya kepada Tuhan. Hidup kita dalam iman kepada Kristus adalah karena pengampunan oleh karena kasih Allah yang besar. Ragam kondisi situasi kehidupan yang akan kita lalui dalam hidup ini, suka atau tidak suka kita akan diperhadapkan pada situasi untuk mengampuni tanpa memperhitungkan besar kecilnya kesusahan yang ditimbulkan bagi kita. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni “Tujuh puluh kali tujuh kali”, ini bukan soal menghitung berapa yang telah diampuni dan berapa yang belum diampuni, namun ini berarti bahwa pengampunan itu tidak ada batasnya.(YG)
Refleksi: Mengampuni adalah gaya hidup Allah, dengan mengampuni maka kita sedang
mempraktekkan gaya hidup Allah.