DAUD, ABNER & YOAB

“Ketika Abner datang kepada Daud di Hebron bersama-sama dua puluh
orang, maka Daud mengadakan perjamuan bagi Abner dan orang-orang yang
menyertainya”
(2 Sam. 3:20)

Abner adalah seorang jenderal dan pemimpin pasukan dari raja Saul. Dia memiliki kemampuan militer yang sangat baik. Untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, Abner pernah menjadi pemimpin pasukan di bawah pemerintahan raja yang lemah. Kepribadian Abner dikenal sebagai seorang yang cenderung mementingkan diri sendiri. Dengan usahanya sendiri, dia ingin menyatukan kerjaaan Israel dan keerajaan Yehuda. Dia menolak untuk bekerja sama untuk mewujudkan rencana Allah. Sedangkan Daud adalah seorang raja yang diurapi Allah untuk mengantikan raja Saul yang telah nyata-nyata gagal dalam memimpin umat Tuhan. Bahkan Saul telah berani menentang perintah Allah dengan melakukan upacara persembahan kepada Tuhan, yang sebenarnya adalah tugas nabi Samuel. Daud menyadari potensi dan ketrampilan Abner dalam memimpin. Oleh karena itu, Daud menggunakan pendekatan yang bersahabat ketika menerima Abner dan
pasukannya. Kemudian Abner mulai mengerti dan menerima rencana Allah untuk menjadikan Daud sebagai raja atas Israel dan Yehuda. Demi mewujudkan rencana
allah, Daud bersedia berdamai dan bekerjsama dengan Abner. Karena ketaaatan kepada Allah, Daud membuat perjanjian damai dengan Abner. Itu sebabnya dia sangat bersedih ketika Abner kemudian dibunuh oleh Yoab, ajudannya yang setia namun memiliki kepribadian yang cenderung ingin melakukan apa yang dipikirnya baik. Daud tidak memanfaatkan otoritasnya untuk menghukum Abner maupun Yoab. Dia memilih untuk menjalin kerjasama dengan mereka dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan mereka. Bagi Daud, menjalankan rencana Allah jauh lebih utama daripada mengikuti keinginan hati dan perasaannya. Daud pun menyadari kekurangan pribadinya; sambil mengakui dan memberdayakan kekuatan orangorang yang bekerjasama dengan dia. Bekerjasama untuk mencapai maksud dan rencana Allah jauh lebih penting daripada mengejar kemuliaan diri sendiri. (ROR)

Refleksi:
Bagaimana kita memperlakukan rekan kerja kita? Apakah kita bersedia menerima kelemahan mereka dan memberdayakan kekuatan mereka demi mencapai rencana Allah?