AYUB & SAHABATNYA

“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabatsahabatnya,
dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala
kepunyaannya dahulu”
(Ayub 42:10)

Salah satu ciri khas anak kecil adalah selalu bertanya “mengapa”? Benarlah anggapan bahwa anak-anak selalu ingin tahu segala hal, sedangkan orang dewasa selalu ingin mengetahui tentang penderitaan. Memang dunia ini penuh dengan hubungan sebab akibat. Misalnya, pemanasan global disebabkan oleh mencairnya gumpalan-gumpalan es di kutub Utara bumi. Degradasi moral di berbagai negara adalah akibat dari penggunaan teknologi yang tidak bijaksana dan kurang dipersiapkan. Bahkan ada yang membuat sinyalemen bahwa perang suku di Afrika adalah akibat ulah negara-negara adidaya yang saling berebut kekuasaan atas dunia. Dalam konteks yang lebih kecil, kemakmuran hidup seseorang dianggap adalah akibat kerja keras dan motivasi yang tinggi serta etos kerja yang sangat baik dari orang tersebut. Itu sebabnya, tidak masuk akal jika seseorang yang memiliki moral yang sangat baik, hubungan keluarga yang sangat bahagia, serta kemampuan manajemen bisnis yang mumpuni seperti Ayub, mengalami penderitaan hidup
yang sangat mengenaskan. Sahabat-sahabatnya berusaha membantu Ayub untuk menemukan jawaban atas penderitaannya. Dengan berbagai hikmat dan pengertian
yang mengandalkan kekuatan pikiran manusia disertai keterbatasan wawasan mereka, para sahabat Ayub kembali kepada suatu teori bahwa orang baik akan mendapatkan apa yang baik, sedangkan penderitaan adalah akibat dari perbuatan yang tidak baik. Sebenarnya Ayub memiliki pandangan yang relatif sama dengan para sahabatnya, kecuali Elihu yang mengungkapkan pendapatnya bahwa mungkin saja Tuhan mengijinkan segala penderitaan Ayub terjadi untuk memurnikan hidupnya. Elihu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketika Allah kemudian menyingkapkan maksudnya, bahwa TUHAN tidak bermaksud mengijinkan Ayub menderita supaya dia mengetahui jawabannya, melainkan supaya dia mengenal Allah lebih dekat lagi. (ROR)

Refleksi: Kadang Allah mengijinkan penderitaan untuk kita alami supaya kita mengenal dia lebih dekat lagi dan lebih bergantung kepadaNya. Kita mungkin tidak selalu bisa menemukan jawaban atas pertanyaan kita.