KESETARAAN DAN SAHABAT

“Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabatsahabatnya,

mereka menjauhi dia” (Ams. 19:6-7)

Dalam suasana pemilihan kepala daerah yang secara serentak dilakukan di
Indonesia, secara kasat mata dapat kita saksikan betapa persahabatan sejati sulit ditemukan dalam dunia politik. Dua orang pemimpin partai yang tadinya berseteru, kemudian menjadi sekutu untuk menghadapi lawan politik dari partai atau koalisi lain. Perbedaan falaafah dasar partai pun tidak jarang dikorbankan demi mencapai kemenangan. Yang lebih mengerikan adalah menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kandidat lain. Seakan-akan meniru dan mengaminkan cara-cara yang dilakukan oleh kandidat presiden dari salah satu negara maju, yang secara vulgar menyerang rival nya dengan berbagai isu yang membuka aib pribadi, keluarga, kelompok, mapun partai pengusung. Rakyat pendukung partai pun ikut-ikutan dalam gerakan yang masif dan demonstratif karena keyakinan akan perubahan nasib maupun masa depan negara. Tidak jelas, apakah benar atau salah, semua aktivitas mendukung para calon pemimpin melibatkan dana yang sangat besar. Kedermawanan palsu dan motivasi yang jelas untuk memenangkan hati pemilih dipertontonkan secara jelas. Uang adalah motivasi terbesar manusia untuk melakukan sesuatu. Dengan uang, kenyamanan hidup dapat diperoleh. Dengan uang, keleluasaan dalam memilih kenikmatan hidup bukan hanya sekedar mimpi. Orang kaya akan disanjung setinggi langit jika dia rela untuk membagikan miliknya. Tetapi apa yang akan terjadi ketika hartanya sudah tidak ada lagi? Penulis kitab Amsal mengungkapkan bahwa orang miskin dibenci oleh semua saudarnya, bahkan dijauhi oleh sahabat-sahabatnya. Kemiskinan dapat dipahami terutama dalam hal kekurangan secara materi dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari, hari, kebutuhan sandang, sperti pakaian layak pakai, kebutuhan perumahan untuk menetap, dan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Artinya, kekurangan akan barang-barang dan pelayanan dasar kelayakan hidup manusia. Kemiskinan juga mencakup kurangnya pemenuhan kebutuhan sosial berupa keterkucilan, ketergantungan dan ketidakmampuan berpartisipasi di masyarakat. Yesus mengingatkan bahwa kita perlu saling menolong dengan tulus membantu yang berkekurangan. Karena orang miskin menurut dunia, bisa saja kaya dalam iman dan menjadi pewaris Kerajaan Surga. (ROR)

Refleksi:
Janganlah kita memandang orang karena hartanya.