TERANG DUNIA

Sabtu, 27 September 2014

TERANG DUNIA
“ Kamu adalah terang dunia.” (Matius 5:14a)

Pada suatu hari listrik di rumah padam. Hari itu hari Sabtu. Saya menelepon Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memperbaikinya. Diluar dugaan saya, PLN merujuk ke nomor-nomor instalator listrik. Rupanya PLN hanya bisa memperbaiki jika kerusakan terjadi pada instalasi di luar rumah. Jika kerusakan terjadi di dalam rumah, saya harus mencari instalator listrik lain. Jadi selama tiga hari, hari Sabtu, Minggu dan Senin lampu di rumah padam. Kami hanya mengandalkan senter handphone untuk melakukan aktifitas pada malam hari. Hari ke-dua dari padamnya listrik, mata sudah mulai terbiasa melihat dalam remang-remang kegelapan malam.
Walaupun kami memiliki lampu senter handphone, banyak aktifitas yang terhalang yang harus dengan hati-hati dilakukan. Hari Selasa, instalator pun datang dan memperbaiki kabel listrik. Pada waktu listrik menyala, begitu senangnya kami bisa melihat lebih jelas di malam hari. Bagi kami yang mengalami 3 malam dengan terang seadanya, terang listrik merupakan anugerah yang tak ternilai. Hati menjadi lega dan tidur lebih lelap.

Kejadian ini memberikan perspektif baru terhadap pesan Tuhan agar kita menjadi terang dunia. Dalam kegelapan malam banyak orang yang mengandalkan sumber terang yang seadanya sehingga mengalami banyak kesulitan.

Kita adalah terang dunia, sumber terang tentu akan ditempatkan di tempat-tempat strategis agar bisa menerangi seluruh tempat. Dengan adanya terang Kristus yang dipancarkan melalui kita, kita diharapkan dapat menerangi kehidupan orang-orang yang mengalami kegelapan. (AS)

Refleksi :
Siapakah orang yang kita kenal, yang saat ini membutuhkan terang Kristus?

 

 

 

Minggu, 28 September 2014

TUNJUKAN KASIHMU
“ Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing.” (1 Korintus 13:1)

Seorang pria mabuk tergeletak di sebuah jalan di Richmond, Virginia. Hari sudah siang. Seorang wanita melihat muka orang mabuk ini dan tergerak hatinya untuk menutupi muka orang ini dengan sapu tangan miliknya. Ketika pria ini terbangun dan sadar. Dia merasa aneh ada sapu tangan wanita menutupi mukanya. Beberapa saat kemudian dia sadar. Ditengah teriknya matahari, jika tidak ada saputangan ini, kulit mukanya akan terbakar. Dia memeriksa saputangan tersebut dengan seksama. Pria ini kaget, karena dipojok sapu tangan tertulis nama seorang Kristen yang pada waktu itu terkenal. Pria ini pun mengunjungi wanita itu untuk mengembalikan saputangannya dan berterima kasih. Akhirnya pria ini pun menjadi seorang pengikut Kristus.

Membaca peristiwa yang terjadi pada pria ini, saya teringat akan ajaran Tuhan Yesus dalam ”orang Samaria yang murah hati” (Lukas 10:30-37). Apabila mengingat kisah orang Samaria ini, ada sesuatu yang mengganjal. Saya tidak mungkin bisa begitu saja percaya kepada seorang asing, apalagi dalam kondisi negara saat ini, dimana banyak terjadi penipuan.

Peristiwa di Richmond, Virginia ini menyadarkan saya. Saya tidak perlu melakukan hal yang besar. Cukup dengan kasih yang berasal dari hati yang terdalam, yang diwujudkan dalam perbuatan sederhana, bisa mengubah kehidupan orang yang membutuhkan kita. Wanita yang meletakkan saputangannya di atas muka pria ini tentu memiliki perasaan kasihan, jangan sampai muka orang ini terbakar saat dia terbangun. Perasaan kasih itu kemudian diwujudkan dalam tindakan, apa yang saya bisa berikan kepada pria ini. Hanya dari sebuah tindakan sederhana, kita bisa melihat
wujud tindakan kasih wanita ini.( AS)

Refleksi :
Apa yang menghalangi kita dalam menunjukkan kasih kepada sesama?