SENI KEPEMIMPINAN KRISTUS

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di
antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia
juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Markus 10: 43-45)

Kepemimpinan adalah sebuah posisi unik dalam sebuah konteks sosial. Menurut John Locke seorang Filsuf Inggris abad ke 17, dalam teori transaksional para pemimpin atau pemegang kekuasaan negara adalah orang-orang yang dipilih oleh para bangsawan, atau para tuan tanah, pembayar pajak, atau warga resmi Inggris untuk diberikan mandat kekuasaan, yang tujuannya untuk menjaga kepemilikan para bangsawan tersebut. Jadi pemimpin dipilih dan diberikan mandat, sehingga jika mereka tidak menjalankan mandat tersebut maka kewenangan akan dicabut. Misalnya ketika mereka menjadi rakus dan membebani pajak yang besar kepada rakyat. Mereka tidak menggunakan wewenang kepemimpinan sesuai mandat, namun untuk menekan rakyat demi kepentingannya sendiri.

Ayat di atas sangat menarik, menjelaskan sebuah model kepemimpinan khas dalam kekeristenan yakni pemimpin yang melayani, atau di sisi lain menjelaskan bagaimana Yesus memandang kekuasaan. Konteks ayat ini dimulai dari Ibu anak-anak Zebedeus yang menghendaki anak-anaknya duduk di sebelah kiri dan kananNya dalam kerajaan Yesus. Tuhan Yesus Kristus memahami maksud dan cara mereka memandang kekuasaan untuk memerintah demi kekuasaan itu sendiri. Sedangkan Yesus justru menggunakan kata diakonos (pelayan) dan doulos (budak) bagi mereka yang ingin menjadi terkemuka, dan Ia sendiri telah melakukannya.

Dalam tugas kepemimpinan kita, seringkali memandang wewenang yang kita miliki dengan sikap yang salah. Alih-alih menggunakan kewenangan tersebut untuk melayani, malah menggunakannya demi kepentingan diri kita sendiri. Tentu saja hal itu sangat memungkinkan untuk dilakukan, sebab kepemimpinan memang memiliki kekuatan di dalamnya, meletakkan posisi seseorang di atas dari yang lain, memberikan banyak kemudahan dan keistimewaan, dan pada akhirnya yang paling berbahaya adalah terjadinya menyalahgunakan kewenangan tersebut tidak untuk melayani, melainkan untuk dilayani. Padahal banyak pemimpin-pemimpin besar di dunia ini justru memiliki jiwa stewardship atau melayani yang sangat baik seperti Jack Ma, Mark Zuckenberg, dan lain sebagainya. (AA)
Refleksi:
Jadilah pemimpin yang memiliki sikap melayani seperti teladan Yesus Kristus maka
keberhasilan akan mengikuti kehidupan kita.