ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN ORANG

Selasa, 30 September 2014

ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN ORANG
“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang ” (Kisah para rasul 10:34)

Martin Luther King Jr. adalah seorang pendeta, dan aktivis anti rasialisme
dari Amerika Serikat. Peraih nobel perdamaian tahun 1963 dikenal dunia
lantaran kegigihannnya memperjuangakan Hak Asasi Manusia bagi kaum
Afro-Amerika. Ia dengan lantang melawan diskriminasi rasial yang kerap diperagakan oleh kalangan kulit putih di Amerika Serikat. Aksinya yang paling terkenal ialah ketika pendeta Gereja Baptis Montgommery ini memimpin demonstrasi pemboikotan bus di Birmingham tahun 1955. Pada aksi tersebut King melakukannya tanpa kekerasan.
Aksi pemboikatan tersebut dipicu oleh peristiwa penolakan dua gadis kulit hitam, Claudette Colvin dan Rosa Park yang menolak menyerahkan kursi bisnya kepada seorang kulit putih. Menurut hukum Jim Crow saat itu, kursi bis harus diberikan kepada orang kulit putih. Diskriminasi rasial tersebut ditentang habis oleh King, yang kemudian menyerukan boikot selama 385 hari. Situasi menjadi semakin tegang setelah King ditangkap selama kampanye dan rumahnya dibom oleh mereka yang tidak suka aksi King. Kasus tersebut berakhir setelah Pengadilan Distrik Amerika Serikat memutuskan untuk mengakhiri segregasi rasial pada semua bus umum
Montgomery. Peristiwa tersebut semakin membuka kesempatan orang kulit hitam untuk mendapatkan hak yang sama di ruang publik.

Petrus memahami makna dari penglihatan yang telah diberikan kepadanya di atap rumah. Dia sadar bahwa perbedaan antara makanan haram halal merupakan penerapan manusia, dan bahwa bertentangan dengan kepercayaan Yahudi, tidak ada bangsa yang boleh dianggap sebagai najis hadapan Allah. Allah tidak membedakan orang dalam berhadapan dengan bangsa manapun. Seorang yang takut kepada Allah dan melakukan hal yang benar, entah dia Yahudi atau bukan Yahudi, diterima oleh Allah. Ini merupakan pelajaran besar yang harus dipahami orang Yahudi, dan menandai satu langkah menentukan di dalam perluasan gereja dari suatu
persekutuan Yahudi menuju kepada suatu persekutuan yang universal.
Allah tidak membedakan bangsa atau suku atau menyayangi orang karena bangsa, kelahiran atau kedudukan dalam hidup. Allah berkenan dan menerima orang dari setiap bangsa yang berbalik dari dosa, percaya kepada Kristus, takut akan Allah, dan hidup benar. Semua orang yang tetap hidup demikian akan tinggal di dalam kasih dan perkenan Allah. (RCM)

Refleksi :
Setiap orang di hadapan Tuhan adalah sama.