KEINDAHAN YANG ENAK DIPANDANG DAN BERGUNA

“Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang
berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji.Allah
melihat bahwa semuanya itu baik.”
(Kejadian 1:26a)
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
(Kejadian 1:31)

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan mengenai estetika, bahkan oleh para filsuf, adalah: Apakah keindahan itu harus ada arti atau gunanya? Atau apakah
keindahan boleh eksis tanpa ada tujuan tertentu? Kalau kita baca seluruh pasal yang pertama dari Firman Tuhan, di Kejadian pasal 1, kita melihat mulai hari ketiga sampai dengan hari ketujuh bahwa ada kata-kata yang khusus yang diulangi: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (10, 12 18, 21, 25). Kata dalam Bahasa Ibrani yang dipakai bisa diterjemahkan: 1. pleasant, agreeable, 2. a good thing, benefit, welfare (Bible Works Genesis 1:10). Sebagai hal yang’ pleasant’, ciptaan Tuhan adalah menarik buat mata dan panca indera. Sebagai  hal yang ‘agreeable’, ada persetujuan lebih dahulu di antara Allah Tritunggal, dimana Roh Allah (Kejadian 1:2) dan Anak Allah (Ibrani 1:2) juga terlibat dalam kesatuan saat menciptakan isi dunia ini, apalagi dalam keputusan bersama sebelum menciptakan manusia (Berfirmlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” Kejadian 1:26). Tetapi kata-kata yang dikelompokkan di definisi kedua menunjukkan ada manfaatnya, ada sesuatu yang baik sebagai tujuannya (‘benefit, welfare’). Tunas muda dan tumbuhan yang berbiji, serta pohon “yang menghasilkan buah yang berbiji”di taman Eden berguna dan sangat bermanfaat bagi manusia. Keindahan tunas muda, tumbuhan, dan pohon sungguh sangat indah dan bervariasi warna hijaunya. Itu sudah ‘pleasant’ buat mata kita.Apalagi keindahan itu diciptakan dengan manfaat secara khusus bagi manusia sebagai makanannya (Kejadian 1:30), tentunya tanpa pestisida, 100% murni, gurih dan penuh khasiat demi kesehatan.

Kita dapat bersyukur adanya Taman Eden di Maranatha.Kita dapat menikmati ciptaan Allah di alam terbuka atau melalui jendela ruang kuliah dan bersyukur kepada Sang Pencipta kita.Waktu Tuhan memperhatikan segala yang Ia ciptakan, termasuk manusia, baru dalam perfection itu Allah mengatakan “amat baik.” Tuhan tidak merendahkan kita tetapi menganggap ciptaan manusia penuh value, amat baik, disediakanNya segala yang manusia butuhkan. (CG)
Refleksi:
Apakah saya sudah memperhatikan keindahan ciptaan Tuhan hari ini?Atau apakah saya membiarkan diri terlalu disibukkan dengan segala macam tugas untuk disegarkan Tuhan lewat ciptaanNya?