BERKARYA DENGAN CARE

“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu pernaga, dua setengah hasta panjangnya,
satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.”
(Keluaran 25:10)

Harap esai diprint di kertas A4, berat kertasnya 75 gram, dengan memakaimargin 4 cm di atas, 3 margin di bawah dan di sisi kiri, 2 margin di sisi kanan. Pakai font Times New Roman ukuran 11. Atau di lembar penjelasan tentang tugas atau ujian take-home kita pernah membaca variasi tentang bahan untuk tugas, ukuran margin, bersama tipe dan ukuran font. Hal ini sudah tidak asing lagi buat kita dalam pekerjaan sebagai mahasiswa atau karyawan administrasi.

Pernah terpikir bahwa ada bahan yang Tuhan tentukan dan ukuran yang Tuhan tentukan dan detail-detail khusus yang Tuhan tentukan untuk pembuatan tabut perjanjian?Ayat 10 di Keluaran pasal 25 menunjukkan bahannya secara khusus.Bukan saja ‘kayu,’ tetapi disebut lebih khusus ‘kayu penaga,’ yaitu kayu dari sebuah pohon yang disebut acacia dalam Bahasa Inggris.Ada jenis dan kualitas kayu tertentu. Bahkan dalam ayat 10-18, 20, 21 kita baca kata ‘haruslah’ atau ‘harus,’ biasanya di bagian pertama dari setiap ayat itu. Pembuatan tabut perjanjian tidak boleh dibuat dengan sembarangan atau menurut pikiran sendiri.Setiap persiapan dan kalkulasi harus benar, seperti yang telah ditentukan, dalam kasus pembuatan karya yang agung ini, seperti yang telah ditentukan Tuhan sendiri.Dan Tuhan sendiri tidak sembarangan dengan memberikan segala petunjuk yang mendetail itu. Loh hukum, yaitu kesepuluh perintah Tuhan yang disampaikan lewat Musa kepada umat Tuhan, harus ditaruh di dalam tabut perjanjian itu (ayat 16). Maka kalkulasi ukuran tabut tidak bisa dibuat dengan sembarangan. Sungguh ada maksud dan tujuan yang khusus dari Tuhan atas setiap detail dan kalkulasiNya.

Kami, pembuat renungan harian, juga diberikan syarat mengenai font, ukuran font, bagian mana yang memakai font regular atau bold atau italic, posisi dan bentuk Refleksi di bagian bawah renungan dan beberapa petunjuk praktis yang lain supaya setiap pengarang memakai format yang sama, tidak sesuai dengan pikiran sendiri masing-masing, yang akan membuat hasil format tidak konsisten dan kurang enak saat dibaca. Sebagai satu contoh, saya copy-paste sebuah kalimat dari persyaratannya: Jumlah kata dalam satu renungan pelita Maranatha berkisar antara 360-380 kata. Menurut fasilitas Word Count di PC saya, jumlah kata saya di renungan ini adalah 368. Baik kita mengerti maksud dari dosen atau atasan atau tidak, take care dengan instruksi yang diberikan. (CG)
Refleksi:
Take care bahwa karya yang kita buat sesuai petunjuk yang berlaku.