TERBUKANYA PEMAHAMAN

 “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesys bahwa Ia berbicara tentang YohnesPembaptis” (Matius 17:13)

Butet Manurung berusia 41 tahun, seorang guru dari jambi, membaktikan hidupnya untuk mengajar anak-anak komunitas Orang Rimba (Suku Kubu) yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung dilakukan sambil tinggal bersama masyarakat didiknya selama beberapa bulan dengan metode Sokola Rimba. Butet berupaya agar dapat menolong anak-anak Suku Kubu memiliki pengetahuan dan dia rela hidup bersama mereka dan menjadi sahabat anak-anak Suku Kubu sehingga cukup banyak anak-anak yang akhirnya terbuka wawasannya. Butet Manurung terpanggil untuk membawa pencerahan bagi Suku Kubu

Bacaan kita pada hari ini menceritakan murid-murid Yesus yang menyaksikan bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung. Setelah itu Yesus menjelaskan kepada murid-murid yang ikut bersamanya agar dapat memahami mengenai apa yang sudah mereka saksikan. Bagi orang Yahudi yang tidak rohani yang hanya memburu tanda, Yohanes sendiri mengatakan, “Aku bukan Elia,” (maksudnya: nabi Perjanjian Lama yang dibangkitkan, Yoh. 1:21). Tetapi bagi mereka yang peka secara rohani, Yohanes telah datang “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17), dan orang telah dituntun kepada Kristus olehnya. Jadi tawaran kerajaan oleh Yesus merupakan tawaran yang sah, sehingga Israel tidak dapat menyalahkan ketidakhadiran Elia sebagai penyebab kegagalan mereka untuk mengenal Yesus. Allah di dalam kemahatahuan-Nya sudah mengetahui bahwa Israel, pada saat kedatangan Kristus yang pertama, tidak akan siap untuk pelayanan Elia yang terakhir, sehingga Dia mengutus Yohanes “dalam roh dan kuasa Elia” sebagai gantinya. Murid-murid akhirnya memahami keberadaan Yohanes Pembaptis setelah mendengarkan penjelasan dari Yesus.

Kita seringkali terjebak dengan cara pandang yang lama. Kita terpaku dengan pemahaman yang sempit dan menganggap itu yang paling benar. Oleh sebab itu kita perlu memperluas wawasan pemikiran dan memperbaiki kehidupan sehingga dapat menjadi orang yang mempunyai pemikiran yang terbuka. Orang yang mempunyai pemikiran yang terbuka dapat hidup dengan penuh gairah, seimbang, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Pemahaman kita akan terbuka dan menjadi lebih luas. Seorang sahabat yang baik akan menolong orang lain untuk dapat memahami kebenaran yang bersumber dari Allah. (RCM) Refleksi : Rasa ingin tahu akan membuka pemahaman yang baru