ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN ORANG

“ Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” (Kisah Para Rasul 10:34)

I ra Natapradja merasa sakit hati setelah putrinya, Gloria Natapradja Hamel, digugurkan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2016 yang akan digelar di Istana, Jakarta. Gloria digugurkan karena memegang paspor Perancis. Karena itu, ia dianggap bukan warga negara Indonesia. Ia merasa puterinya diperlakukan diskriminatif oleh pemerintah. Seringkali dikehidupan kitapun kita terjebak untuk membedakan orang lain tanpa kita sadari. Padahal semua orang di hadapan Tuhan sama.

Petrus memahami makna dari penglihatan yang telah diberikan kepadanya di atap rumah. Dia sadar bahwa perbedaan antara makanan haram halal merupakan penerapan manusia, dan itu bertentangan dengan kepercayaan Yahudi. Di hadapan Allah tidak ada bangsa yang boleh dianggap sebagai najis. Allah tidak membedakan orang dalam berhadapan dengan bangsa manapun. Bagi orang Yahudi, bergaul dengan orang non-Yahudi merupakan pantangan. Apa yang dilakukan Petrus menghancurkan hukum yang selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu karena Allah. Allahlah yang menghancurkan dua tradisi manusia yang saling bertolak belakang: Kornelius “si kafir” mengundang Petrus, dan keputusan Petrus “Yahudi” datang ke rumah Kornelius. Di dalam Allah hubungan sesama manusia tidak ada penghalang. Dengan kata lain, tradisi yang bertentangan dengan prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dengan kebenaran firman Tuhan. Seorang yang takut kepada Allah dan melakukan hal yang benar, entah dia Yahudi atau bukan Yahudi, diterima oleh Allah. Ini merupakan pelajaran besar yang harus dipahami orang Yahudi, dan menandai satu langkah menentukan di dalam perluasan gereja dari suatu persekutuan Yahudi menuju kepada suatu persekutuan yang universal.

Inilah salah satu babak pertumbuhan Kekristenan. bertumbuh ternyata tidak mudah. Orang tidak bisa tinggal dan mengurung diri hanya di dalam benteng kehidupannya untuk selama-lamanya, atau seperti katak di bawah tempurung. Kekristenan tidak ditentukan aturan-aturan yang sifatnya membedakan orang. Tetapi identitas Kristiani ditentukan oleh Yesus Kristus Tuhan dan Juruslamat. Dengan perkataan lain, orang Kristen tidak boleh terperangkap dalam formalisme atau legalisme agama. Tetapi jiwa Kristiani ditemukan dalam diri Yesus Kristus di dalam peristiwa inkarnasi. Tuhan menjadi sama dengan manusia, bahkan sampai mati di kayu salib karena kasihnya kepada manusia tanpa membeda-bedakan. (RCM) Refleksi : Semua manusia sama dihadapan Allah