DICELIKKAN KASIH-KARUNIA ALLAH (Efesus 1:3-14)

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3)

. J ames Irwin, seorang astronot Amerika Serikat dengan Apollo 15 tahun 1971 berhasil mendarat di Bulan selama 67 hari. Saat dia berada di ruang angkasa, James Irwin merasakan dan mengalami peristiwa keagungan dan kemuliaan Allah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Muncullah refleksi teologis yaitu, kesadaran yang mencelikkan mata rohaninya akan makna inkarnasi Kristus. James Irwin juga menyatakan bilamana dia dapat mengalami kehadiran dan kemuliaan Allah di ruang angkasa sehingga membuat dia menjadi berarti. Apalagi saat umat manusia menghayati kedatangan dan lawatan Allah melalui inkarnasi Kristus ke dunia.

Pencelikkan mata-rohani (iluminasi) akan Kristus merupakan awal dari ziarah iman yang sesungguhnya. Karena melalui pencelikkan mata-rohani kita dimampukan untuk menyaksikan dan mengalami makna kekayaan kasih-karunia Allah. Sebelum dicelikkan, sebenarnya kita telah dilimpahi oleh kasih-karunia Allah. Namun saat itu kita tidak mampu merasakan dan mengalami kasih-karunia Allah tersebut. Itu sebabnya kita tidak mampu mengucap syukur, bersukacita dan beriman. Kita melihat realita hidup dengan sikap pandang yang pesimistis, suram dan tanpa harapan. Penilaian- penilaian diri kita didasarkan kepada luka-luka batin di masa lalu atau pengalaman-pengalaman traumatis. Luka-luka batin dan pengalaman traumatis kita bersumber kepada dosa secara struktural dan dosa secara personal.

Dosa struktural dan dosa personal membuat kita menjadi buta secara rohani, sehingga hidup dalam kegelapan dan menolak kasih-karunia Allah. Karena itu kekristenan tanpa pencelikkan mata rohani akan menjadi kekristenan yang buta. Mereka tahu akan keselamatan, tetapi tak mampu mengalami anugerah Allah. Mereka dapat memberi pelayanan, tetapi tanpa kegembiraan dan ucapan syukur. Di Efesus 1:3 rasul Paulus mengungkapkan pencerahan iman dan pembaruan hidupnya di dalam Kristus, yaitu: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Dalam konteks ini rasul Paulus mengalami kehidupan yang terberkati (eulogetos) sebab telah diberkati (eulogeo). Rasul Paulus mengalami diberkati Allah dengan segala berkat rohani di dalam sorga yang bersumber kepada Kristus. Tepatnya rasul Paulus mengalami pencelikkan mata-rohani, sehingga dia menyaksikan dan mengalami seluruh kasihkarunia Allah. (YBM) Refleksi: Hati yang dicerahi menghasilkan sukacita dan ucapan syukur sehingga kasih-karunia Allah menjadi realitas dalam kehidupan umat beriman.