ROH YANG MEMBERI HIDUP DAN MENGHIDUPKAN (Roma 8:1-11)

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum
dosa dan hukum maut”
(Roma 8:2).

Karya Roh yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus pada hakikatnya mengubah dan membarui mindset yang dimiliki oleh manusia. Arti mindset di sini bukan hanya perubahan pola pikir, tetapi juga perubahan pola hidup secara keseluruhan. Rasul Paulus memaknai kata “berpikir” (phronousin) sebagai suatu pemahaman yang selalu diikuti dengan suatu tindakan. Arti “berpikir” (phronousin) di Roma 8:5-6 senantiasa mengandung: “sistem nilai, filosofi, hawa-nafsu/keinginan dan kehendak untuk melakukan sesuatu. Jadi selama manusia berada di bawah perbudakan dosa; maka seluruh sistem nilai, filosofi, hawa-nafsu/keinginan dan kehendaknya masih dikuasai oleh kuasa dosa. Makna iman atau percaya kepada Kristus seharusnya dihayati sebagai tindakan penyerahan diri secara penuh untuk dikuasai oleh anugerah pengampunan Allah. Dengan anugerah pengampunan Allah akan memampukan setiap umat diubahkan (ditransformasikan) menurut kehendak Allah.

Melalui anugerah Allah, kehidupan manusia yang dahulu masih berada di bawah perbudakan dosa yaitu keinginan daging ditransformasikan menjadi umat yang mampu hidup menurut keinginan Roh Allah. Karya penebusan Kristus pada hakikatnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu mindset yang semula hanya terarah kepada keinginan daging. Keinginan daging adalah maut tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai-sejahtera (Roma 8:6). Timbul pertanyaan mengapa karya Kristus yang sempurna dan telah menebus kehidupan umat manusia dalam praktik
kehidupan sehari-hari masih ditandai oleh berbagai keinginan dan praktik hidup yang jahat?

Karya penebusan Kristus dan kehadiran RohNya pada hakikatnya tetap sempurna. Hakikat kesempurnaan dan karya penebusan Kristus tidak dapat diredusir atau ditiadakan oleh realita kehidupan umat manusia yang masih jauh dari harapan. Sebab efektivitas karya penebusan Kristus dan RohNya juga ditentukan respons manusia. Bagaimana sikap manusia memberi respons terhadap karya Kristus yang membarui kehidupan ini. Apakah respons kita mau terbuka untuk terus-menerus dibaharui oleh kehadiran RohNya? Ataukah respons kita justru ditandai oleh berbagai sikap pembenaran diri atau mungkin sikap penolakan kepada Dia dengan semakin mengeraskan hati? Karya pembaruan dan pemulihan Kristus akan menghasilkan kehidupan dengan buah Roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). (YBM)

Refleksi:
Sejauh mana hidup kita dibarui oleh Roh Kudus dapat diukur dari sejauh mana kehidupan kita menghasilkan Buah Roh dan bukan keinginan daging.