PENGENANGAN DAN PEMBARUAN (Kejadian 35:1-15)

Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan
buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika
engkau lari dari Esau, kakakmu”
(Kejadian 35:1).

Saat Yakub melarikan diri dari rumah ayahnya di Bersyeba menuju Haran, dia mengalami penyataan diri Allah di kota Lus. Karena penyataan diri Allah
tersebut, kota Lus diganti nama menjadi Betel, yang artinya: rumah Allah. Di Betel inilah Yakub memperoleh janji penyertaan dan berkat Allah (Kej. 28:13-15). Janji penyertaan dan berkat Allah terbukti selama Yakub berada di perantauan. Yakub akhirnya berhasil, sehingga dia dikaruniai keluarga dan kekayaan. Yakub juga kemudian mampu berdamai dengan Esau, kakak yang pernah marah dan membencinya. Dalam pergumulan dengan Allah di Pniel, Allah mengganti namanya dari Yakub menjadi Israel (Kej. 32:28), yaitu dari seorang penipu menjadi seorang yang menang berhadapan dengan Allah.

Janji penyertaan Allah di Betel menentukan arah perjalanan kehidupan Yakub selanjutnya. Pada saat itulah Allah berfirman agar Yakub bersama dengan keluarganya melawat kembali kota Betel. Mereka dipanggil Allah untuk mengenang kembali karya keselamatan Allah yang pernah dialami Yakub. Jadi setelah Yakub berhasil dan melewati krisis, dia dipanggil Allah merefleksikan imannya di kota Betel. Dalam konteks ini Betel, menjadi dasar pijak dan bukti dari seluruh berkat dan kasih Allah
bagi Yakub.

Bagi Yakub secara khusus pengenangan terhadap kota Betel sekaligus merupakan pembaruan bagi seluruh anggota keluarganya. Karena para istri dan anak-anak Yakub selama tinggal di Haran hidup tanpa pengenalan akan Allah. Itu sebabnya saat Allah memerintahkan Yakub dan keluarganya ke Betel, Yakub segera memerintahkan seluruh anggota keluarga dan semua orang yang bersama-samanya untuk meninggalkan para ilahnya.

Pembaruan hidup di Betel melibatkan seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub, menentukan sejarah hidup mereka. Betel tidak lagi dihayati sebagai rumah Allah pribadi bagi Yakub, tetapi menjadi tempat persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yahweh. Demikian pula melalui karya Kristus, keselamatan Allah terbuka bagi setiap umat manusia dalam satu persekutuan, yaitu Tubuh Kristus. Respons kita seharusnya seperti yang dilakukan oleh anggota keluarga Yakub dan orang-orang yang bersamanya, yaitu: membuang semua illah, mentahirkan diri dan mengganti dengan pola kehidupan yang baru.(YBM)
Refleksi:
Pengenangan akan karya Allah di masa lalu dibutuhkan sejauh kita memiliki visi ke depan dan pembaruan hidup.