HIKMAT DAN KEMURNIAN HIDUP (Yakobus 3:13-18)

 

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai,
peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan
tidak munafik”
(Yakobus 3:17).

Arti “hikmat” berhubungan erat dengan kecakapan rohani seseorang untuk membuat pertimbangan yang adil dengan cara-cara yang benar, sehingga menghasilkan suatu keputusan etis yang membangun dan dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berhikmat berhubungan erat dengan motif, dasar pertimbangan, cara pengungkapan dan keputusan etis yang didasari kecerdasan rohani tertentu. Unsur utama dari hikmat ternyata bukanlah seberapa luas pengetahuan kognitif seseorang, tetapi seberapa besar kualitas hidup rohaninya. Itu sebabnya definisi dari Yakobus 3:17 tentang hikmat yang dari atas adalah “pertama-tama murni.” Kata “murni” (hagnos) menunjuk kepada pengertian: suci, bersih, sempurna, dan sederhana. Tanda pertama dan utama dari hikmat adalah kemampuan hidup yang tidak bercacat, apa adanya, memiliki integritas tinggi dan kredibel. Modal dasar dari hikmat tersebut akan memampukan seseorang untuk menjadi pendamai, pemaaf, pemurah, belaskasihan, tidak memihak dan tidak munafik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Karena itu hikmat dari Allah selalu menghasilkan damai-sejahtera dan keselamatan dalam kehidupan bersama. Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Yang mana kemurnian diri tersebut berakar dalam relasi dengan Allah, sang sumber kemurnian dan kekudusan. Manakala kita mengabaikan atau menolak anugerah Allah, maka seluruh hikmat yang kita bangun akan menjadi hikmat dunia. Dengan tepat rasul Yakobus menyatakannya: “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan” (Yak. 3:15). Ibadah merupakan media relasi manusia dengan Allah. Namun dalam kehidupan sehari-hari ibadah justru sering dimanipulasi menjadi media pembenaran diri. Akibat sikap pembenaran diri melalui ibadah atau keagamaan adalah hidup kita semakin jauh dari kemurnian. Pada hakikatnya ibadah yang benar senantiasa memampukan manusia untuk mengembangkan dan memberdayakan diri semakin berhikmat. Dengan hikmat itu dia menghadirkan firman Tuhan yang membangun kehidupan dan memberkati orang-orang di sekitarnya. Hikmat yang dinyatakan dalam perkataan seharusnya telah dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari melalui kemurnian hidup. Jika demikian, sejauh mana kehidupan kita didasari oleh kemurnian hidup sehingga hikmat kita tersebut mempermuliakan Allah? (YBM)
Refleksi:
Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Karena dari kemurnian hidup hikmat menjadi pola hidup yang mempermuliakan Allah.