PEMBAHARUAN BUDI

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
(Roma 12:2)

Dalam sebuah website www.psychologytoday.com ada sebuah artikel menarik yang berjudul “Your Mindset Can Determine Genuine Success” (Pola Pikir Dapat Menentukan keberhasilan yang sesungguhnya) yang ditulis oleh salah satu kontributornya yang bernama Ray William. Dari ringkasan artikel tersebut disampaikan bahwa pikiran manusia dapat dibentuk yang menjadi sumber perilaku bagi seseorang. Sehingga ketika input yang dimasukkan dalam pikiran kita kesuksesan, maka perilaku yang muncul adalah perilaku suksesyang menjadi awal bagi seseorang meraih kesuksesan.

Ayat di atas adalah salah satu nasehat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, Jemaat yang hidup di kelilingi oleh kehidupan yang tidak mencerminkan sikap hidup seorang Kristiani di jaman tersebut. Dan nasehat yang menarik adalah ketika ia mengatakan metamorfou/sqe (Baca: metamorphousthe), sebuah bentuk kata imperatif agar seseorang mampu hidup membedakan kehendak Tuhan dan dan berkenan. Kata metamorphoó diterjemahkan berubah. Untuk memberikan perbandingan, kata ini sama seperti yang digunakan pada perubahan kepompong menjadi kupu-kupu, metamorphosis. Sehingga dapat dimaknai perubahan yang dimaksud adalah sebuah pertumbuhan alamiah menuju kapasitas yang lebih baik pada nou/j (Baca: nous) akal budi. Jika kita melihat pemahaman Rasul Paulus tentang pikiran ini ia berbicara tentang pikiran Kristus, dan kepada jemaat di Filipi ia menghendaki mereka memiliki
pikiran tersebut.

Banyak sekali “kejahatan” atau perilaku buruk dalam kampus terjadi dimulai dari pikiran. Jika pikiran buruk, perilaku juga menjadi buruk. Istilah gaul yang sering digunakan okrim (otak kriminal). Misalnya berpikir “curang sedikit boleh-boleh saja” dapat membuat mahasiswa mencontek pada saat test, atau bahkan melakukan ketidakjujuran akademis. “Mengambil uang universitas boleh saja” menyebabkan terjadinya penyalahgunaan anggaran keuangan atau juga pada kewenangankewenangan lain. Yang paling buruk adalah ketika terjadi pembalikan pola pikir, ketika yang salah dianggap benar dan yang benar menjadi salah. Inilah saatnya kita “merevolusi mental” membangun nilai-nilai hidup Kristiani dalam ICE secara lebih kongkrit dalam pola pikir kehidupan civitas akademika Universitas Kristen
Maranatha, sehingga akan terwujud kondisi yang lebih baik.(AA)
Refleksi:
Alami perubahan terus menerus dalam kehidupan ini yang diawali dengan pembaharuan pikiran.