ESENSI ANTAR SAHABAT

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam
keukaran”
(Amsal 17:17)

Dalam sejarah bangsa Indonesia banyak kisah persahabatan para pemimpin seperti Soekarno dan Hatta yang diabadikan menjadi nama-nama jalan protokol di beberapa kota bahkan dijadikan nama bandar udara kebanggaan Indonesia di daerah Cengkareng, yaitu Bandar Udara Soekarno-Hatta. Baru-baru ini kisah persahabatan dua orang pemimpin juga menjadi cerita yang sangat membangun, yakni antara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Wakilnya, Djarot Saiful Hidayat. Terlepas dari bagaimana awal dan akhir kisah persahabatan keduanya, momen yang paling menggambarkan persahabatan Ahok dan Djarot adalah ketika sang Gubernur menjalani hukuman atas kasus penistaan agama yang didakwakan terhadapnya, sang wakil Gubenur mengungkapkan betapa ia ikut merasakan apa yang dirasakan mitra kerja dan sahabatnya tersebut. Dalam pernyataannya, Djarot mengatakan bahwa ia selalu siap mengambil alih tanggungjawab, siap untuk melindungi dan membela sahabatnya. Menurut Djarot, hubungan dirinya dengan Ahok bukan sekadar gubernur dan wakil gubernur melainkan sudah bagaikan sahabat. Ketika mengajukan permohonan penangguhan tahanan agar Ahok tidak mendekam dalam penjara sementara mengajukan banding, Djarot memberikan jaminan dirinya. Ini menunjukkan bahwa Djarot bersedia mengorbankan diri demi sahabatnya.

Kisah persahabatan seperti ini diceritakan juga di dalam Alkitab. Yang paling terkenal adalah kisah tentang Daud dan Yonatan (1 Samuel 18). Yonatan putera Raja Saul, menjalin persahabatan sejati dengan Daud. Yonatan menyadari karakter mulia dalam diri Daud, demikian pula sebaliknya Daud mengenali Yonatan sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan takut akan Tuhan. Yonatan rela mengorbankan kehormatan
diri demi sahabatnya. Bahkan ia hampir dibunuh ayahnya sendiri karena membela Daud sahabatnya. Dia yakin bahwa sahabatnya tidak bersalah. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah persahabatan di atas adalah bahwa persahabatan sejati ditandai oleh kasih yang tulus, komitmen yang kuat untuk saling menjaga, melindungi, bahkan mengorbankan diri serta kesetiaan pada janji persahabatan.

Apakah kita memiliki sahabat? Apakah kita memiliki seseorang yang kita kasihi dengan tulus, percayai, dan dengannya kita mengikat perjanjian persahabatan? Apakah kita telah menjadi seorang sahabat bagi orang lain sebagaimana halnya Ahok dan Djarot atau Daud dan Yonatan? (ROR)
Refleksi:
Esensi dari persahabatan sejati adalah kasih yang tulus, kesetiaan akan janji persahatan, dan komitmen yang kuat, serta kerelaan untuk mengorbankan diri.