UPAH YANG KEKAL DARI PENYAMBUTAN

“Barangsiapa menyambut seorang nabi, ia akan menerima upah nabi, dan
barangsiapa menyambut orang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah
orang benar”
(Mat. 10:41)

Bara dan Melda adalah sepasang suami istri asal Indonesia yang memutuskan untuk menetap di negara Paman Sam untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Keduanya memiliki gelar akademik dalam bidang yang berbeda. Bara adalah seorang ahli di bidang marketing sedangkan Melda adalah seorang sarjana hukum. Mereka saling mengenal melalui sebuah kelompok paduan suara yang memberi kesempatan bagi mereka untuk mengunjungi berbagai tempat. Bara sangat terkesan dengan kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan di Amerika dan sejak masih lajang bertekad untuk menetap disana. Itu sebabnya ketika mereka menikah, keduanya sepakat untuk pindah ke tempat itu. Mereka tinggal di salah satu kota besar di negara bagian Colorado. Saya mengenal Melda melalui suatu pelayanan mahasiswa ketika masih di Indonesia. Ketika mendengar saya akan berkunjung ke negara bagian tempat mereka tinggal, dia menawarkan dan mengundang saya untuk menginap di rumah mereka. Setelah selesai mengikuti konferensi di sebuah hotel di kota tempat mereka tinggal, saya dijemput oleh Bara bersama dua orang anak laki-laki mereka (Melda sedang kerja shift siang, jadi tidak ikut menjemput). Saya belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, bahkan tidak memiliki bayangan akan wajah mereka. Saya hanya mengenal Melda ketika masih tinggal di Indonesia. Meskipun baru saling mengenal, saya merasakan rasa persaudaraan – mungkin karena berasal dari negara yang sama atau karena kami juga berasal dari suku yang sama-. Namun saya merasakan lebih daripada itu. Saya merasakan rasa persaudaraan sebagai sesama orang yang percaya kepada Kristus. Setelah saling memperkenalkan diri dan memastikan bahwa mereka menjemput orang yang dimaksudkan, saya mengikuti mereka masuk ke dalam mobil dan menuju rumah kediaman mereka. Di dalam perjalanan, saya merenungkan dan menghargai kerelaan Bara untuk menjemput seseorang yang tidak dikenalnya dan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mungkin dia juga masih lelah sehabis bekerja shift malam, tetapi karena permintaan istrinya untuk menjemput teman lama sang istri, dia melakukannya juga. Saya dapat merasakan keteguhan hati dan komitmen Bara dan istrinya untuk selalu menyambut orang Indonesia yang berkunjung ke kota mereka sebagaimana mereka ungkapkan sebelumnya. Komitmen itu mereka buktikan ketika ada teman-teman dari Indonesia yang mengunjungi mereka beberapa waktu kemudian. Mereka senantiasa menyambut orang-orang yang mengunjungi mereka dengan senang hati dan bersusaha melayani
keperluan orang yang berkunjung.

Dalam Kisah Para Rasul diceritakan mengenai Publius, seorang gubernur yang menyambut para rasul dan menjamu mereka selama tiga hari (Kis. 28:7). (ROR)
Refleksi: Menyambut orang lain dengan senang hati akan mendapatkan upah yang kekal.