HANNA: PEMABUK ATAU PENDOA (I Samuel 1:8-20)

“Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat
bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum,
melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.”
(1Samuel 1:15)

Doa sering dikenal sebagai nafas hidup orang percaya, namun demikian kenyataannya dalam kehidupan berjemaat bertolak belakang. Contoh, jemaat kurang tertarik dengan kegiatan persekutuan doa yang diselenggarakan oleh gereja. Kehadiran jemaat dalam persekutuan doa sangatlah minim, dibandingkan dengan kegiatan gereja lainnya. Kiranya renungan dibawah ini mengingatkan kita tentang pentingnya doa.

Hana dalam bahasa ibraninya khanna yang berarti ‘belas kasihan.’ Hana adalah salah seorang dari dua istri Elkana. Elkana, suaminya berasal dari keturunan Efraim, tinggal di Ramataim- Zofim. Penina istri kedua dari Elkana selalu ingin menyakiti hati Hana. Penina dengan sengaja menyakiti hati Hana supaya Hana menjadi marah, gusar dan menangis. Hal ini terjadi setiap kali keluarga Elkana pergi ke rumah Tuhan untuk beribadah dan mempersembahkan korban. Bagaimana Hana mengatasi rasa sakit dan kepedihan hati itu? Pada suatu kali ketika keluarga Elkana pergi beribadah di rumah Tuhan, Hana mengambil kesempatan untuk berdoa secara pribadi kepada Tuhan di dekat tiang pintu rumah Tuhan. Imam Eli memperhatikan doa Hana. Ia menyangka Hana mabuk oleh anggur. Ternyata dugaan imam Eli keliru. Hana berdoa kepada Tuhan, mencurahkan seluruh beban dan seluruh isi hatinya kepada Tuhan.

Pesan penting yang dapat kita pelajari dari ceritera Hana si pendoa adalah: Pertama, Hana menempatkan Tuhan sebagai sahabat sejatinya. Ia mencurahkan semua beban persoalan dan kepedihan hatinya hanya kepada Tuhan. Tidak ada yang disembunyikan oleh Hana. Kedua, Hana sangat percaya kepada Tuhan bahwa Dia tidak akan mempermalukan Hana,. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita di tengah-tengah keluarga. Satu tahun kemudian Hana mendapatkan anak laki-laki namanya Samuel. Ketiga, Hana konsisten dengan janjinya kepada Tuhan. Ia membawa Samuel kepada Imam Eli untuk dipersembahkan kepada Tuhan, menjadi pelayan rumah Tuhan. Sebab Hana berjanji kepada Tuhan: “Jika Tuhan mendengarkan doanya dan memberikan anak laki-laki, maka anak itu akan dipersembahkannya kepada Tuhan.” (RS)
Refleksi:
Apakah kita sudah menjadikan doa sebagai gaya hidup kita? Apakah kita sudah mengalami kuasa dan mujizat dari doa-doa yang kita naikan kepada Tuhan?