STEFANUS : PERGI DALAM DAMAI (Kisah Para Rasul 7:54-60)

“Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah
rohku.” (Kisah Para Rasul 7:59)

RIP singkatan dari Rest In Peace, yang dapat diterjemahkan pergi dalam damai. RIP ini biasanya ditulis di batu nisan kuburan. Pertanyaannya adalah apakah benar orang yang telah meninggal itu pergi dengan damai atau pergi dengan meninggalkan banyak ganjalan?

Kisah Para Rasul 7:57-61 menceriterakan tentang peristiwa bagaimana Stefanus dieksekusi mati oleh masa dengan cara yang tidak manusiawi, yaitu dilempari dengan batu sampai mati, dikenal sebagai hukum rajam. Stefanus artinya mahkota. Ia adalah satu dari tujuh orang yang dipilih oleh para rasul sesudah kebangkitan Yesus untuk mengawasi bantuan kepada orang miskin (pelayanan diakonia) supaya para rasul berkonsentrasi memberitakan firman. Stefanus sangat menonjol iman, kasih, kuasa rohani, dan hikmatnya. Ia menggunakan waktu melebihi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan khusus yang ditugaskan kepadanya,. Dia banyak mengerjakan mujizat dan giat mengabarkan Injil. Kisah Para Rasul 7:1-53 adalah bukti kuasa dan hikmat seorang Stefanus yang dengan kuasa dan hikmat Allah ia meringkas sejarah umat Israel sampai pada kematian Yesus disalibkan, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga, dalam bentuk khotbah di depan Imam Besar agama Yahudi dan di depan anggota majelis Mahkamah Agama. Isi khotbah Stefanus tidak bisa diterima. Mereka
marah, menyeretnya, dan merajamnya.

Apa pesan dari cerita ini? Pertama, cara orang meninggal tidak menentukan apakah orang itu pergi dengan damai atau pergi dengan penuh ganjalan Cara kematian Stefanus yang dirajam sampai mati, mungkin kita berpikir kematiannya sangat tragis dan memilukan, sehingga ia tidak pergi dengan damai. Justru sebaliknya, cerita ini menjelaskan bahwa Stefanus pergi dengan damai; hal ini terlihat dari sikap hati dan imannya. Imannya, dengan ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan pemilik hidupnya. “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sikap hatinya adalah ia berdoa dengan suara nyaring: “ Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia bersedia mengampuni mereka yang membunuhnya. Sikap hati dan imannya inilah yang membuat ia pergi dengan damai. Kedua, Stefanus meneladani sikap Yesus ketika menghadapi pencobaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh para musuh. Sikap berserah kepada kedaulatan Allah, yang berdaulat memberikan kehidupan dan mengambil kehidupan itu. Ketiga, ia percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit , maka ia percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. (RS)
Refleksi:
Marilah kita meneladani iman, kasih, kerja keras, hikmat dari seorang Stefanus sehingga kita dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi lingkungan kita.