PETRUS : KASIH MENEMBUS BATAS APAPUN (Kisah para Rasul 10:1-48)

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa
Allah tidak membedakan orang.”
(Kisah Para Rasul 10:34)

Sejak peristiwa dugaan peristiwa penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok sampai hari ini (setelah pilkada DKI Jakarta selesai) masyarakat masih berdebat tentang isyu suku, agama, radikalisme dan golongan bahkan semakin liar dan hampir tidak terkendali.

Petrus sebagai orang Yahudi asli yang telah mengalami perjumpaan dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus, tidak serta merta menjadi pribadi yang sempurna. Sikap primordialisme Petrus masih melekat dalam dirinya, hal itu terlihat jelas dalam Kis 10 ini. Dalam ayat 18 -19 Petrus berkata kepada Kornelius dan anggota keluarganya: “Kamu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tahir. Itulah sebabnya aku tidak keberatan ketika aku dipanggil, dan datang kemari.” Tetapi, ketika ia diperlihatkan oleh Tuhan semua binatang haram untuk memakannya pada ayat 13-14 barulah ia sadar bahwa Tuhan menghendaki dia untuk bergaul dan memberitakan kasih Allah kepada orang-orang non Yahudi.

Pesan penting dari cerita Petrus dan Kornelius ini adalah: Pertama, Kita harus menyadari bahwa sadar atau tidak sering kita memiliki sikap primordialisme juga; merasa suku kita lebih hebat/ superior, agama kita lebih benar, pandangan kita lebih mumpuni dll, sedangkan yang lainnya, salah. Sikap demikian akan membuat tembok yang tebal dalam pergaulan dan dalam membangun relasi dengan orang lain maupun dengan masyarakat. Itulah sebabnya sikap yang demikian harus dibuang supaya kita bisa cair menerima dan memperlakukan orang lain secara terhormat sebagai ciptaan Tuhan. Kedua, Jika kita sudah merasakan dan mengalami bagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita apa adanya, maka kita juga harus mengasihi mereka yang belum menerima cinta kasih Tuhan apa adanya juga, tanpa memandang latarbelakang suku, agama, status sosial dll. Sebab Kasih Yesus menembus, menjangkau semua manusia tanpa dibatasi oleh apapun. Kasih Yesus harus menjadi pondasi dalam pergaulan, persahabatan dan relasi kita dengan masyarakat di manapun kita berada. Ketiga, Konelius dan keluarga, orang-orang di luar sana dan dunia ini membutuhkan cinta kasih dari Yesus. Tugas dan panggilan kita adalah mengamalkan dan menularkan cinta dan kasih itu kepada mereka. (RS)
Refleksi:
Apakah cinta dan kasih Yesus menjadi pondasi dalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan kita?