MELAYANG-LAYANG

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh
Allah melayang-layang di atas permukaan air.
(Kejadian 1:2).

Dalam sebuah diskusi teologi tentang sifat-sifat Tuhan, seorang dosen saya di sekolah teologi menggambarkan bagaimana Tuhan itu seperti benteng yang kokoh, tidak tergoyahkan, solid, padat, dan tidak bisa ditembus. Pemahaman teologinya sangat kaku dan mengikat hanya pada satu pengertian kebenaran saja, selebihnya adalah kesalahan atau bahkan dibidahkan. Sehingga bayangan saya yang lahir pada saat itu tentang Tuhan adalah sosok yang tidak kenal kompromi, keras, tegas, dan menghukum apapun yang tidak disukaiNya. Mungkin Anda juga pernah mengenal orang yang sedemikian, sehingga ia menjalani kehidupannya sama dengan apa yang dia pahaminya.

Ayat di atas sangat menarik. Di dalamnya terdapat eksistensi tentang realitas Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci yang justru berbeda sama sekali. Ini adalah realitas Tuhan di awal Kejadian. Ketika dunia ini belum berbentuk dan dalam kondisinya masih kosong, di mana-mana yang ada pada saat itu hanyalah permukaan air. Disini Tuhan menyatakan diriNya dalam frasa ini ~yhiêl{a/ tp,x,Þr:m. (Baca: ’ĕ·lō·hîm mə·ra·ḥe·p̄eṯ), di mana dalam teks ini elohim digambarkan sedang melayang-layang di atas permukaan air. Dalam pengertian yang lebih antromorfis (penggambaran Tuhan dalam perilaku manusia) dapat diterjemahkan seperti seseorang yang sedang berjalan santai, kondisi rileks, atau bahkan melenggang. Tidak ada kesan gambaran Tuhan yang kaku, keras, tak kenal kompromi dalam pengertian ayat ini seperti yang digambarkan di atas.

Maksud penjelasan yang kontras ini adalah seringkali dalam kehidupan ini kita masuk ke dalam pemahaman hidup yang kaku, dipaksakan, hingga dalam tahap membebani dan menimbulkan stres. Seolah-olah hanya itulah satu-satunya pilihan hidup yang harus dijalani. Padahal ada banyak pilihan lain dalam kehidupan ini yang bisa diambil yang membuat kehidupan yang kita miliki menjadi lebih baik, bermakna, dan tentu saja membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia. Dan yang seringkali bukan kehidupan itu sendiri, sebab memang dari sananya sudah begitu, tetapi pilihan-pilihan kita untuk memahaminya. Seperti pembahasan awal mengenai realitas Tuhan. Alkitab
tidak memberikan satu saja gambaran tentang Tuhan, namun jika kita maunya begitu, ya tidak ada yang melarang. (AA)
Refleksi:
Biarkan Tuhan “melayang-layang” di atas kehidupanmu membebaskanmu dari pilihan-pilihan yang membuat hidupmu terkungkung