WASPADA DI KALA SENANG

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga
dan sadar.”
(1 Tesalonika 5:6)

Pada saat pertama kali Bapak Presiden Jokowi naik, meskipun melalui perjuangan yang sangat berat, kita sangat senang, bahwa pada akhirnya kepemimpinannya yang bersih melahirkan kemenangan-kemenangan pemimpin yang bersih lainnya di berbagai daerah. Ada banyak pengaruh gerakan-gerakan radikalisasi mengalami perlawanan, dan bahkan pembatasan-pembatasan yang membuat Indonesia menjadi lebih kondusif untuk melakukan pembangunan. Namun tanpa disangka-sangka, pada saat Pilkada Jakarta baru-baru ini muncul gerakan radikal yang sangat besar dan serentak, yang bahkan mampu “menggulingkan” kepemimpinan yang bersih untuk tujuan-tujuan politis kelompok lain yang ingin berkuasa.

Ayat di atas sangat menarik menjadi pembahasan renungan hari ini. Kata jangan tidur dalam teks ini tentu lebih bermakna kiasan, yang arti dari keseluruhannya adalah kewaspadaan. Pada saat itu berkembang menjadi latar kisah kedatangan Yesus yang semakin dekat, sehingga Rasul Paulus merasa pelu memberikan peringatan, tentang pentingnya memiliki sikap kewaspadaan dalam menyambut kedatanganNya, dengan tetap bertekun dalam pola kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan; Tidak menjadi lengah dengan pola hidup yang dipenuhi “kemabukan.” Paulus nampaknya cukup berpengalaman menangani jemaat-jemaat yang lengah, salah satunya adalah jemaat di Korintus yang bahkan meninggalkan pesan paling mendasar yakni pesan dari Salib Kritus itu sendiri.

Memahami pembahasan ini mengingatkan saya pada beberapa pepatah yang umum dikenal banyak orang di Indonesia, misalnya “sedia payung sebelum hujan”, atau yang lain “roda tidak selalu di atas.” Namun kesadaran seperti yang diungkapkan dalam slogan ini seringkali terlupakan dalam kehidupan kita, sebab alamiahnya di kala suka orang tidak ingat lagi duka, atau dikala berhasil orang tidak ingat dengan kondisi kegagalan, atau di kala sehat orang tidak ingat ketika sakit. Dan seringkali dalam keadaan yang baik, orang tidak mempersiapkan bahwa hal buruk bisa terjadi kapan saja, atau malah melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan keburukan bagi dirinya sendiri. Contoh yang paling kongkrit yang dialami banyak orang, di kala sehat orang tidak menjaga kesehatannya. Mereka makan apa saja, malas olah raga, mengkonsumsi zat adiktif yang merusak, dan ketika mengalami salah satu penyakit yang berbahaya seperti serangan jantung, barulah sadar berolahraga. Ironis bukan? (AA)
Refleksi:
Waspadalah justru di kala senang, supaya kedukaan yang kelak bisa terjadi tidak terlalu berat.