PILIHAN DAN KEPUTUSAN

Rabu, 22 Oktober 2014

PILIHAN DAN KEPUTUSAN (Lukas 22: 39-47)

“ Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
(Lukas 22: 42)

Bacaan hari ini menggambarkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani sebelum Ia ditangkap dan disalibkan di Golgota. Yesus memberi teladan suatu ketaatan yang sejati walaupun hal itu berarti merelakan diri untuk terluka, menderita dan menanggung siksaan yang seharusnya tidak layak Yesus terima. Yesus menyerahkan hakNya untuk menolak jalan penderitaan dan justru bersedia menerima kehendak Bapa yang sesungguhnya bukan suatu keputusan yang membuat dirinya nyaman
dan tenang. Yesus sudah dapat membayangkan betapa sakit dan pedihnya segala cambukan, pukulan, hinaan dan cercaan yang akan Ia terima sehingga Alkitab menyatakan bahwa ”Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”(22:44). Namun, Yesus tidak membiarkan segala gejolak emosi dan jiwa secara manusiawi tersebut menghentikan langkahNya menuju ke Kalvari.

Pernahkah perasaan galau, marah, kecewa, pedih, gengsi dan rasa dendam menghentikan langkah kita untuk mengampuni orang lain? Dalam buku ”Mengampuni dan Mengasihi Kembali”, disebutkan bahwa pengampunan adalah: ”Keputusan sepenuh hati untuk membebaskan orang yang melukai Anda dari utang yang timbul ketika Anda disakiti” (John Nieder & Thomas M. Thompson, 2007). Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa di Alkitab ada banyak gambaran kata yang berbeda tentang pengampunan, misalnya: Mengampuni berarti mengetuk palu di ruang pengadilan dan menyatakan ’Tidak bersalah!’; mengampuni berarti
menganugerahkan maaf yang utuh kepada orang jahat yang bersalah; mengampuni berarti memasukkan semua sampah ke dalam karung, mengikatnya lalu membuangnya, dan yang ada tinggallah rumah yang bersih dan segar.

Sebagai manusia, tindakan mengampuni bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan dan bukan hal yang kita sukai. Yesus sudah pernah mengalami pergumulan serupa dan Yesus sangat mengerti dan peduli pada kita. Kiranya kasih Yesus memampukan kita untuk mengambil keputusan yang menyenangkan hati Bapa. (CA)

Refleksi :
Mengampuni itu ”mulia dan meneladani Kristus” ((John Nieder & Thomas M. Thompson). Hal apa yang Tuhan nyatakan pada saya tentang pengampunan?