PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA

Sabtu, 25 Oktober 2014

PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA (Kejadian 50:15-21)

“ Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. ” (1 Yohanes 2 : 11)

Gianna Jessen adalah seorang penulis, penyanyi, dan pembicara yang lahir tahun 1977 di Los Angeles. Secara ajaib Tuhan memberi anugerah kehidupan baginya walaupun ibunya adalah seorang gadis muda tanpa ayah yang sedang menjalani proses aborsi di sebuah klinik. Sang ibu sangat terkejut karena ternyata terdengar suara tangisan dari bayi yang ia gugurkan. Allah berdaulat sepenuhnya dalam setiap situasi kehidupan dan tidak ada yang dapat menggagalkan rencanaNya. Sang bayi mungil yang tidak diharapkan justru tumbuh menjadi wanita yang dipulihkan dan dipakai oleh Allah. Kisah hidupnya dipaparkan dalam buku ”Gianna: Aborted and Lived to Tell about It” (1999) dan menginspirasi film ”October Baby” (2011). Setelah mengalami kasih Tuhan dan menerima pengampunanNya, akhirnya Gianna diberi kekuatan untuk mengampuni dan bertemu langsung dengan ibu kandungnya.

Terkadang dalam hidup ini ada berbagai kekecewaan dan penolakan yang berasal dari orang-orang terdekat atau keluarga kita. Kisah kehidupan Yusuf memberikan teladan tentang kasih dan pengampunan. Oleh kekuatan Tuhan, Yusuf dimampukan untuk berhadapan kembali dengan kakak-kakaknya dan mengampuni mereka. Yusuf tidak menaruh kebencian kepada mereka bahkan ia berinisiatif untuk memulihkan
hubungan dengan mereka. Allah berdaulat penuh atas segala jalan hidup Yusuf. JIka Yusuf hidup dalam kebencian barangkali ia akan hidup dalam kegelapan dan tidak akan menyadari ada campur tangan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Yusuf telah mengalami kesembuhan emosi dan suatu petualangan iman bersama dengan Tuhan sehingga ia dapat berkata: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan nya untuk kebaikan”(20-21).

Allah rindu agar di tengah keluarga, hubungan orang tua, anak, saudara-saudara, suami dan isteri dapat mengalami pemulihan. Ingatlah: “Pengampunan dan kesembuhan emosi tidaklah sama. Kesembuhan emosi memang membutuhkan waktu, namun semua dimulai dengan tindakan mengampuni, suatu keputusan secara sadar pada suatu titik tertentu” (John Nieder & Thomas M. Thompson). (CA)

Refleksi :
Apakah kasih dan pengampunan telah nyata di keluarga kita?

 

KASIH DAN PENGAMPUNAN (1 Korintus 13: 1-13)

“…Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
(1 Korintus 13: 5)

Ada sebuah lagu dari Maria Shandi dan Jason yang berjudul “Mengampuni”, yang petikan liriknya seperti berikut:

                             KETIKA HATIKU T’LAH DISAKITI
                       AJARKU MEMBERI HATI MENGAMPUNI
                           KETIKA HIDUPKU T’LAH DIHAKIMI
                         AJARKU MEMBERI HATI MENGASIHI
                          SEPERTI HATI BAPA MENGAMPUNI
                                MENGASIHI TIADA PAMRIH

Allah Bapa telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Dalam bacaan hari ini, Paulus memaparkan berbagai contoh perwujudan kasih yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber kasih sejati adalah Kristus sendiri. Kita tidak dapat mengasihi sesama dengan kekuatan kita sendiri. Setelah kita percaya dan mengenal Kristus, maka kasih Allah akan dicurahkan dalam hidup kita. Kasih Allah bukanlah kasih yang bersyarat; dalam arti Allah mengasihi kita ukan KARENA kita layak dikasihi tetapi Allah mengasihi kita WALAUPUN kita tidak layak dikasihi. Kristus telah menunjukkan kasih kepada kita walaupun kita berdosa dan memberontak kepada Allah. Demikian pula, Allah rindu agar kita mengasihi sesama bukan karena hubungan timbal balik atau karena sesuatu alasan atau tujuan tertentu. Allah rindu agar kita belajar mengasihi sesama walaupun orang tersebut nampaknya tidak layak kita kasihi.

Salah satu bentuk dari kasih adalah “tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”(ayat 5). Saat kita tidak menyimpan kesalahan orang lain berarti kita rela untuk memberikan pengampunan kepada orang tersebut walaupun orang tersebut barangkali menurut kita tidak pantas dimaafkan. Namun, saat memandang salib Kristus dan kasihNya, sesungguhNya kita juga termasuk orang yang tidak layak dikasihi dan diampuni oleh karena segala dosa dan kejahatan kita. Jika kita telah
menerima kasih dan mengalami pengampunan Allah, mari kita belajar untuk berbagi kasih kepada sesama kita. (CA)

Refleksi :
Maukah kita memiliki hati yang mengasihi dan mengampuni?