COLLECTIVE INTELLIGENCE

Senin, 17 Nopember 2014

Collective Intelligence
“Sebab pikiran bangsa ini sudah menjadi tumpul, telinga mereka sudah menjadi tuli dan mata mereka sudah dipejamkan. Ini terjadi supaya mata mereka jangan melihat, telinga mereka jangan mendengar, pikiran mereka jangan mengerti, dan jangan kembali kepada-Ku, lalu Aku akan menyembuhkan mereka.” (Kis 28:27 BIS)

Patrick J. McGovern Professor di MIT Sloan School of Managementdan pendiri MIT Center for Collective Intelligence mendefinisikan Collective Intelligence sebagai sekelompok individu yang mengerjakan sesuatu secara kolektif dan mereka terlihat cerdas. Dalam pengertian itu, Collective Intelligence sudah ada sejak lama. Menurut dia, kita menyaksikannya –paling tidak sesekali– dalam keluarga, perusahaan, dan negara. Hal baru adalah Collective Intelligence yang dimungkinkan oleh internet. Setiap hari kita menikmati hasil kerja mereka saat menggunakan aplikasi web berbasis crowdsourcing seperti google dan wikipedia. Dari semua individu yang
terlibat, kebanyakan tidak saling kenal, tidak pernah tatap muka, bahkan tidak tahu bahwa mereka bekerjasama, tetapi mereka bekerja dengan sangat efektif dan menghasilkan produk dan layanan yang luar biasa. Sebagai kesatuan mereka tampak sangat cerdas!

McGovern mengatakan, jika sekelompok orang bisa menjadi Collective Intelligence, mereka juga dapat menjadi Collective Stupidity!Meski agak kasar, sebutan ini terasa pas untuk menggambarkan organisasi yang kecerdasannya kelihatan tumpul. Misalnya, mengerjakan sesuatu secara redundan dan bertele-tele, membuat kesalahan yang sama berulang-ulang, dan orang-orangnya suka mengeluh. Padahal, di dalamnya banyak individu-individu cerdas yang potensial sebagai problem solver.Seperti Yesus, Paulus mengutip nubuat Yesaya untuk mengonfirmasikan penyebab utama manusia menolak pemulihan Allah. Itu adalah sikap bebal, degil, dan picik.
Perasaan sempurna membuat pikiran tertutup. Teguran dan tuntunan-Nya tak didengar, perbuatan dan karya-Nya luput dan perhatian. Gagal memahami rencana dan kehendak-Nya, manusia terperosok kepada kesia-siaan. Sikap serupa akan memasung kita dalam memenuhi panggilan sebagai satu tubuh dalam organisasi.

Kita mau UK Maranatha menjadi Collective Intelligence. Untuk itu, mari kita dengan kerendahan hati membuka pikiran, mengembangkan tenggang-rasa, juga membangun kolaborasi untuk merespon masalah dan tantangan organisasi. Saat yang sama, kita menyambut dan memanfaatkan peluang yang ada dalam meningkatkan seluruh aspek pelayanan Universitas secara optimal.(JS)

Refleksi :
Pikirkan satu peluang atau masalah di unit Anda. Unit mana yang Anda pikir dapat memberi nasihat dan menolong Anda untuk menyelesaikannya?