KESUNGGUHAN UNTUK DIPERSATUKAN

Jumat, 21 November 2014

KESUNGGUHAN UNTUK DIPERSATUKAN (Filipi 2:1-11)
yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:6)

Ide ’pisah harta’ bagi pasangan suami – isteri dapat dikatakan ide cerdas menghadapi kemungkinan buruk di kemudian hari yang tidak terduga. Celakanya, ide ini juga menjadi dasar pemisahan diri gereja-gereja. Hal ini semakin menunjukkan kesungguhan –sebagai pasutri atau Gereja sebagai Tubuh Kristus- masih bersikap subyektif. Ketika sepasang kekasih berikrar sebagai suami isteri, masing-masing berikrar akan berbuat dan memberi banyak, kecuali diri sendiri apabila mereka juga membuat perjanjian ’pisah harta’. Demikian juga, ketika gereja memilih keluar dari Sinode dan membentuk Sinode yang baru ketika mereka dituntut lebih banyak,
padahal menurut mereka, sementara ini sudah terlalu banyak yang diberikan.

Mengobyektifkan kesungguhan subyektif berarti memberikan diri, memberikan keberadaan kita. Bukan sekedar memberikan perkataan, janji, ikrar, tenaga bahkan uang kita untuk suatu pernyataan kesatuan. Seperti Gereja yang bersedia mengikatkan diri dalam suatu Pengakuan Iman dan Tata Gereja, demikian hendaknya pasangan suami isteri bersedia mengikatkan diri dalam suatu perjanjian ’harta bersama’ sehingga kehidupan bersama ini menjadi available (tersedia) dan accountable (dapat dipertanggungjawabkan). Memang obyektivitas kesungguhan ini rawan menjadi subyektivitas. Pasangan mungkin perlu strategi jitu untuk mengamankan diri dari beban tanggungjawab yang dipikul pasangannya.

Tidak demikian dengan Tuhan Yesus, ia bersedia memikul tanggungjawab yang sebenarnya bukanlah beban tanggungjawabnya, tapi jalan itu ditempuh-Nya agar manusia dapat terpulihkan hubungannya dengan Allah, Penciptanya.

Jadi, bagaimana wujud nyata obyektivas kesungguhan dalam kehidupan seharihari ? Belajar dari Kristus, hanya ada satu cara : tidak menganggap ’kehormatan’ yang kita miliki sesuatu yang patut kita pertahankan. Dalam kehidupan seharihari, sikap rendah hati dan berbelas kasih menjadi tindakan keseharian kita dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing. (IH)

Refleksi :
Supaya mereka semua menjadi satu…supaya dunia percaya.