BERSYUKUR ATAS KESATUAN=MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

Kamis, 27 November 2014

BERSYUKUR ATAS KESATUAN = MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA
Jawab Yesus kepadanya:” kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Manusia adalah mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial ia tidak bisa hidup
seorang sendiri tetapi hidupnya saling bergantung dan saling membutuhkan
yang seorang terhadap yang lain. Dokter butuh pasien dan pasien butuh
dokter. Guru butuh murid dan murid butuh seorang guru. Pedagang butuh pembeli dan pembeli butuh pedagang. Dalam menjalankan dan mengisi kehidupan ini kita saling membutuhkan dan saling bergantung satu dengan yang lainnya. Diperlukan suatu kesatuan dan keterikatan diantara sesama manusia. Hanya sayangnya, kesadaran tentang hidup manusia yang saling bergantung dan saling membutuhkan ini sering dikalahkan oleh sikap egoisme manusia dan sikap pementingan diri-sendiri.

Ketika ada seseorang Ahli Thorat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama, maka dengan gamblang Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama dalam hukum Thorat adalah hukum kasih. Yesus menegaskan bahwa hal mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah pusat dari hukum Tuhan. Oleh karena itu mengasihi Allah harus diwujudkan dalam kasih kepada sesama, dan kasih kepada sesama merupakan wujud kasih kepada Allah. Tidak mungkin ada seseorang yang berkata mengasihi Allah tetapi ia membenci sesamanya, maka orang yang seperti itu belum serius dalam mengasihi Allah. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah dua hal yang melengkapi dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Melakukan hukum mengasihi Allah berarti juga sekaligus melakukan hukum mengasihi sesama, tidak boleh terpisah dan tidak boleh terlepaskan. Keduanya saling berkaitan. Hal berikut yang harus diperhatikan untuk dilakukan adalah kita harus melakukannya dengan segenap hati, jiwa dan akal-budi. Artinya kita harus melakukannya hukum kasih kepada Allah dan sesama dengan seluruh eksistensi kita.

Persoalannya, dalam menjalani hidup ini kita sering menjalaninya dengan sikap egoisme dan mementingkan diri sendiri. Melalui Firman Tuhan hari ini kita diingatkan tentang hukum kasih kepada Tuhan dan sesama dan sebagai warga kampus kita diajak untuk mengisi hidup ini dengan mempraktekkan ajaran kasih Kristus. (AE)

Refleksi:
Ibadah sejati adalah ibadah yang mengasihi sesama.