BERSYUKUR ATAS KESATUAN=MERAYAKAN HIDUP PENUH DAMAI

Jumat, 28 November 2014

BERSYUKUR ATAS KESATUAN = MERAYAKAN HIDUP PENUH DAMAI

“ Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang terjadi, berkatalah mereka:” Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?” Dan seorang dari mereka menyerang hamba imam besar sehingga putus telinga kanannya. Tetapi Yesus berkata:”sudahlah itu”. Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya”.
(Lukas 22:49-51)

Sejak dulu sampai hari ini kelaziman yang seringkali dipraktekkan dalam
masyarakat adalah prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi. Seseorang akan
lebih suka dan lebih puas ketika kejahatan dibalas dengan kejahatan, kekerasan dibalas juga dengan kekerasan. Gengsi untuk membalas sulit untuk diturunkan dari tahta egoisme kita sehingga yang menguasai manusia adalah amarah dan hawa nafsu. Sejarah telah banyak mencatat betapa berdarah-darahnya dunia ini oleh darah segar umat manusia yang tertumpah akibat konflik dan kekerasan yang terjadi antar manusia. dalam situasi yang seperti ini manusia tidak lagi memposisikan dirinya sebagai sesama bagi yang lainnya, justru menjadi srigala atas sesamanya.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini disaksikan ketika Tuhan Yesus selesai berdoa di Taman Getsemani dan sedang berbicara dengan murid-muridNya, maka datang serombongan orang bersama dengan Yudas dengan membawa pedang dan pentungan untuk menangkap Yesus. Ciuman Yudas terhadap Yesus adalah ciuman pengkhianatan yang kemudian diikuti gerakan serombongan orang itu menangkap Yesus. Pedang dan pentungan tentulah kita tahu alat yang bisa digunakan untuk tindak kekekerasan yang bisa melukai bahkan membahayakan Yesus. Untuk melindungi gurunya, seorang dari murid Yesus merespon situasi seperti itu dengan menyerang hamba iman besar sehingga putus telinga kanannya. Di sini kita belajar dari Yesus menyikapi situasi yang terjadi. Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tapi ia merespon kekerasan dengan cinta kasih dan damai. Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.

Dunia tempat kita hidup sekarang ini dipenuhi dengan kekerasan, hampir setiap hari kita mendengar berita tentang kekerasan antar umat manusia yang amat mengerikan. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang meneladankan kita untuk merayakan hidup yang penuh damai. (AE)

Refleksi:
Dunia saat ini membutuhkan cinta dan kasih, tiada yang lain.