PERAN SEORANG IBU

Senin, 22 Desember 2014

PERAN SEORANG IBU

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2 Timotius 5:1)

Hari ini adalah hari Ibu di Indonesia, sungguh sebuah kebanggan bagi kita
karena tugas seorang ibu tidaklah mudah, tetapi penuh dengan perjuangan
dan pengorbanan (apalagi ibu yang juga bekerja). Ia perlu ekstra keras dalam membina rumah tangganya. Pada waktu tahun 1700-an di Inggris ada seorang bernama Susana Wesley mempunyai 19 anak (sungguh banyak sekali). Tetapi yang perlu dicontoh adalah semua anaknya berhasil dan dua anaknya yaitu John dan Charles Wesley sangat terkemuka. Keduanya menjadi berkat bagi dunia ini dengan berdirinya gereja methodis.

Dalam nas hari ini, Paulus yang ada di dipenjara menulis surat ini kepada Timotius, ia teringat akan muridnya (disebut anakku yang kekasih) ay 2. Ia bangga dan memuji iman Timotius. Tidak dijelaskan kapan dan dimana Timotius beriman, tetapi mengapa Timotius beriman dalam ay 5 disinggung yaitu karena iman dari nenek Lois dan ibunya Eunike. Dalam Kisah para rasul dijelaskan ibu Timotius adalah orang Yahudi dan percaya kepada Yesus Kristus. Sungguh luar biasa Ibu dan nenek menjadi teladan iman bagi Timotius. Dari sini kita dapat melihat bahwa peran orang tua (khususnya seorang ibu) merupakan hal yang sangat penting bagi anaknya. Sudah pasti kita dapat menduga Nenek Lois dan ibu Eunike mendidik Timotius dengan ajaran Tuhan, sehingga Paulus berkata Timotius mempunyai iman yang tulus ikhas atau sungguh sungguh.

Sebagai warga kampus, bagi pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengajar dan mengarahkan anak didiknya seperti orang tua. Hal yang sama bagi mahasiswa yang dididik harus mengucap syukur karena orang-orang yang telah bersedia mendidik mereka selain orang tua di dalam keluarga. (RAP)

Refleksi :
Sudahkah saudara sebagai pendidik memberikan nilai-nilai kristiani dengan
keteladanan hidup?

Selasa, 23 Desember 2014

MENYAMBUT KELAHIRAN YESUS

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama maria, IbuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Matius 2:11)

Bulan Desember bagi umat kristiani adalah bulan sibuk dalam mempersiapkan dan merayakan natal. Tetapi tanpa disadari, apakah mereka sudah memberikan tempat bagi Yesus dalam merayakan natal? Apakah dampak dari Natal yang mereka rayakan? Apakah kita menyambut dengan sukacita penuh?

Orang Majus dalam bahasa yunani magos dan digunakan untuk memberi nama satu suku dari bangsa Media-Parsi (Persia) yang mempunyai jabatan imam di kerajaan Persia. (Ada yang memandang sejajar dengan raja). Menurut pandangan penduduk Persia, orang Majus adalah orang suci dan bijaksana. Pada umumnya, orangorang Majus menguasai beberapa cabang ilmu pengetahuan, di antaranya adalah ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu alam dan lain-lainnya. Jadi orang majus dapat digolongkan sebagai imam dan orang berilmu khususnya di bidang astronomi. Ketika
mereka mendengar kabar tentang kelahiran Sang Mesias yaitu Yesus, orang Majus tidak tinggal diam. Mereka pergi mencari Yesus (Mat 2:1-2). Mereka mau datang jauh-jauh untuk menyembah Yesus (harus melalui padang pasir yang panas jika siang dan dingin sekali jika malam hari). Mereka sangat bersukacita dan bukan hanya itu saja mereka rela mempersembahkan harta yang dimilikinya bagi Yesus Raja segala
raja. (2:10-11).

Suatu sikap yang luar biasa ketika orang Majus menyambut Yesus sang Raja bukan hanya dengan sukacita tetapi juga sikap hormat. Apakah sukacita yang dimiliki oleh orang Majus masih ada dalam kehidupan orang percaya? Bukan sukacita karena dipaksa bersukacita tetapi benar-benar keluar dari dasar hati kita. Jika orang Majus menunjukkan sukacitanya dengan berjalan jauh tetapi juga mempersembahkan yang terbaik dari hidupnya. Menjadi sebuah teladan bagi umat Kristiani dalam menyambut dan merayakan kelahiran Sang Juru Selamat. (RAP)

Refleksi :
Sudahkah kita seperti orang majus yang membuka diri dan menerima kedatangan Kristus dengan penuh kerendahan hati?

Rabu, 24 Desember 2014

CARE BUAT ORANG MISKIN DAN YATIM PIATU

”Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita
kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17)

Saat malam Natal di abad kedua puluh, ada seorang bocah yang miskin dan tidak punya rumah. Tetapi karena dia ingat malam ini adalah malam Natal, bocah ini memberanikan diri naik tangga dan mengetok pintu di sebuah rumah yang besar. Maksud bocah itu adalah meminta sedikit makanan karena dia begitu lapar dan tidak ada orang tua; tidak ada uang untuk beli makanan. Ternyata ada pesta di dalam rumah itu, musiknya keras. Tidak ada seorang pun yang membuka pintu bagi dia. Dengan sedih, dia meninggalkan rumah yang mewah itu dan mulai berjalan ke rumah yang lain yang kelihatan besar. Waktu dia mengetok di pintu rumah yang sungguh mengagumkan ini, ada seorang Bapak yang membuka pintu. Tetapi sang pria yang membuka pintu bicara dengan keras dan marah, ”Jangan ganggu saya”, katanya. Tidak terduga bocah itu akan mendapatkan respon yang sedemikian pahit. Dia kehilangan semangat untuk mencoba lagi dan mulai melewati beberapa rumah yang mewah. Tetapi dia merasa terdorong untuk mencoba meminta roti di sebuah rumah yang kecil. Walaupun penuh ketakutan, bocah ini mengetuk pintu. Sebelum dia mengatakan satu kata pun, seorang wanita tua membuka pintu rumahnya,
mempersilakan masuk serta memberikan semangkok sop yang panas dan lezat.

Besok adalah Hari Natal, hari istimewa buat umat Tuhan. Malam ini adalah malam Natal. Banyak lagu Natal terdengar di gereja-gereja bahkan di supermarket, mengingatkan kita akan kepedulian Bapa Surgawi yang penuh kasih terhadap manusia yang miskin, apalagi yang miskin secara rohani. Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menutup ’pintu hati’ terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, termasuk yang membutuhkan bantuan secara materi.

Menunjukkan kepedulian dan berbagi kepada mereka yang perlu bantuan bukanlah sesuatu untuk dilakukan setahun sekali saja, di saat Natal. Tetapi Natal ini adalah kesempatan yang baik untuk mempraktekkan kasih dan rasa peduli Bapa Surgawi kepada anak-anak yang tidak punya seorang Bapak di dunia ini. (CG)

Refleksi :
Dapatkah saya bisa membuka hati dan dompet untuk menunjukkan rasa peduli dan kasih kepada siapa saja di saat Natal ini?

Kamis, 25 Desember 2014

MERENDAHKAN DIRI AKAN DITINGGIKAN

“ Aku berkata kepada: orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri , ia akan ditinggikan.” ( Lukas 18:14)

Istilah merendahkan diri berasal dari bahsa latin yaitu “ humilitas “. Akar kata ini adalah “ humus “ yang dalam bahasa Indonesia berarti tanah. Berdasarkan akar kata ini maka seseorang bisa menjadi orang yang rendah hati ketika ia mengenali dan menghayati dirinya yang hanyalah berasal dari tanah. Memposisikan sebagai yang diciptakan oleh Tuhan dan memposisikan Tuhan selaku pencipta. Banyak orang menjadi tinggi hati sebab ia tidak menyadari dirinya yang berasal dari tanah dan memposisikan dirinya sebagai yang di atas segalanya, termasuk di atas Tuhan. Pengenalan diri selaku yang diciptakan akan membawa kita pada kesadaran akan keterbatasan diri yang pada gilirannya memampukan kita untuk menempatkan Tuhan sebagai yang harus dimuliakan.

Dalam teks bacaan Alkitab kita hari ini Yesus mengajarkan kita tema tentang merendahkan diri. Sikap sombong dan meninggikan diri dengan jelas sangat dikritik oleh Yesus. Terhadap orang yang selalu meyombongkan dirinya Yesus menegur mereka melalui penggambaran 2 orang yang berdoa kepada Allah, yang satu seorang Farisi dan lainnya seorang pemungut cukai. Dalam doanya orang Farisi merasa layak di hadapan Tuhan dan mengurai dengan detail prestasi-prestasi: bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan pemungut cukai.
Berpuasa dua kali semingggu dan rajin memberi perpuluhan. Tapi pemungut cukai itu berdiri jauh, ia tidak berani menatap ke langit, memukul dirinya dan berkata: “ kasihanilah aku orang berdosa ini”. Orang yang dibenarkan oleh Allah adalah ia yang merasa berdosa dan bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Ia akan pulang dengan membawa anugerahNya.

Pada hari Natal ini tentulah sangat penting kita sebagai keluarga besar UKM
merenungkan tema ini, karena Tuhan yang akan datang pada peristiwa Natal adalah Tuhan yang merendahkan diriNya bahkan sampai mati di salib. Karena itu marilah kita menantikannya dengan sikap RENDAH HATI. (AE)

Refleksi :
Mengisi hidup dengan spiritualitas rendah hati. Bagaimana dengan saudara? sudahkah kita mempraktekkannya?

Jumat, 26 Desember 2014

SETIA DALAM BEKERJA

“ …Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”
( 2 Tesalonika 10 )

Konsep loyalitas atau kesetiaan dalam bekerja banyak dipertanyakan belakangan ini, seiring dengan maraknya pindahnya pegawai dari perusahan yang satu ke perusahaan lainnya dengan pertimbangan honor. Menurut kamus bahasa Indonesia, loyal berarti patuh, setia. Karena itu hal terpenting yang perlu kita catat mengenai kesetiaan ada 2 hal: (a) kesediaan sungguh oleh kesadaran (b) ada otoritas yang harus dipatuhi.
Kesediaan sebagai kesetiaan bukanlah kesediaan yang dipaksakan dan setengahtengah, tapi kesediaan yang murni dan tulus karena perasaan mencintai. Sebagai contoh seorang ibu yang bersedia menunggui anaknya yang sedang di rawat di rumah sakit sepanjang hari dan sepanjang malam dengan rasa kantuk dan lelah, bukan sebuah kesediaan terpaksa tapi kesediaan karena kesadaran akan kasih dan sayangnya terhadap anaknya. Karena kesediaan oleh kesadaran panggilannya, maka seorang guru setia untuk berjalan puluhan kilometer mendidik anak-anak muridnya walaupun dengan gaji yang sangat minim. Apa yang dilakukan seorang ibu dan guru
sebagaimana contoh di atas menunjukkan kepada kita adanya otoritas yang harus mereka patuhi. Pertanyaannya, siapa otoritas yang harus dipatuhi dalam konteks kita bekerja? Tentu sebagai orang yang beriman kepada Tuhan yang Maha Kuasa kita meyakini bahwa segala bentuk pekerjaan kita yang baik berasal dari Tuhan dan merupakan anugerahNya. Tuhan meneladani kita tentang kesetiaan dan mengajar kita untuk senantiasa rajin dalam bekerja. ( 2 Tesalonika 3:3-10)

UK.Maranatha adalah “perpanjangan tangan” Gereja dalam melayani masyarakat melalui bidang pendidikan. Istilah “perpanjangan tangan” hendak menegaskan kepada kita bahwa otoritas yang harus dipatuhi adalah Allah sebagai kepala Gereja yang sudah mendirikan dan memimpin Gereja dan UKM sepanjang perjalanannya. Karena itu kesetiaan kita bekerja berada dalam konteks kesadaran itu, yaitu konteks kesadaran bahwa Tuhan sebagai yang empunya otoritas. Kesetiaan kita dalam bekerja bukan sekedar alasan honor atau gaji, tapi kesediaan atas kesadaran panggilan bekerja dari sang pemilik otoritas, yaitu Tuhan. (AE)

Refleksi :
Memahami dan menghayati bekerja bukan sekedar kegiatan sekuler, tapi sebagai ibadah kepada Tuhan.

Sabtu, 27 Desember 2014

BERDAMAI DENGAN DENGAN DIRI SENDIIRI

“ Tetapi Tuhan menjawabnya, Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” ( Lukas 10:41-42 )

Banyak permasalahan yang kita alami dalam hidup ini muncul sebagai akibat dari kekuatiran yang berlebihan dan menyusahkan diri sendiri dengan banyak perkara. Seringkali konflik dan permusuhan terjadi karena salah paham dan karena tidak adanya keterbukaan. Di dalam keluarga, misalnya tidak jarang terjadi pertengkaran dan konflik antara suami-istri, orangtua-anak, menantu-mertua yang disebabkan karena miskin dan tipisnya kualitas komunikasi yang dibangun di antara anggota keluarga dan ketiadaan saling pengertian. Miskinnya komunikasi semakin diperparah karena sifat egoisme diri masing-masing anggota keluarga yang merasa
benar sendiri dan memposisikan orang lain dalam posisi yang salah. Pengambilan posisi benar-salah menimbulkan gesekan dan pertentangan yang pada akhirnya mengarah pada penghakiman siapa yang salah dan siapa yang benar.

Marta dan Maria sebagaimana yang dapat kita kenali dalam penuturan kesaksian penulis Injil Lukas adalah 2 orang bersaudara yang tinggal bersama dalam satu rumah. Tapi di antara mereka berdua tidak ada keterbukaan yang jernih, sebaliknya mereka saling mencurigai terutama Marta yang mencurigai Maria. Dari sudut pandang Marta, Maria telah melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya ketika ia duduk bersujud dekat kaki Yesus dan peristiwa ini mendorong Marta untuk mengungkapkan pendapat protesnya kepada Maria dengan mengatakannya kepada Yesus. Tetapi respon Yesus terhadap perkataan Marta justru di luar dugaan Marta.
Sebagaimana dinyatakan dalam Lukas 10:41-42 “Tetapi Tuhan menjawabnya, Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” Persoalan yang dialami Marta adalah persoalan yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Bukan pada Maria, bukan pada orang lain, dan bukan dengan ingkungannya. Karena itu sangat penting untuk berdamai dengan diri
sendiri.Sebagai satu keluarga besar di UKM kita harus saling terbuka dan dapat berkomunikasi dengan jernih. Dan sebagai satu keluarga selain berdamai dengan orang lain, kita juga harus berdamai dengan diri kita sendiri. (AE)

Refleksi :
Berdamai dengan Tuhan: berdamai dengan sesama dan diri sendiri.

Minggu, 28 Desember 2014

HIDUP YANG BERHARGA

“ Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Matius 6:27,30)

Seorang anak remaja tergeletak lunglai dalam kamar sebuah hotel di Jakarta, dan ternyata remaja tersebut baru saja melakukan pesta sabu bersama dengan teman-temannya. Polisi lalu menggeledah kamar tersebut dan mendapati sejumlah pil ekstasi dan narkoba yang belum sempat dikonsumsi. Mereka lantas digelandang ke kantor polisi dan ditangkap dalam kasus sebagai pengguna dan pengedar obat terlarang. Kisah di atas menggambarkan orang-orang yang tidak bisa menghargai kehidupan yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Hidup yang seyogyanya mereka isi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat malah disia-siakan. Hal ini merupakan tantangan berat yang dihadapi keluarga, gereja dan masyarakat dalam membina dan mendidik generasi muda supaya menghargai hidup.

Hidup yang kita miliki sangat berharga. Mengapa berharga? Sebab hidup yang ada pada kita adalah anugerah Tuhan semata. Namun kita seringkali tidak menghargai hidup yang merupakan anugerah Tuhan tersebut. Kita merasa kuatir tentang makanan, minuman, pakaian, keuangan, dll. Oleh karena cengkeraman rasa kekuatiran tersebut akhirnya fokus hidup yang dijalani berorientasi hanya untuk mendapat makan, minum, dan uang. Manusia manjadi egois dan tidak lagi menghargai hidup yang merupakan pemberian Tuhan. Firman Allah hari ini mengingatkan kita:” siapa diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada
jalan hidupnya.”

Hidup ini berharga. Karena hidup kita berharga maka Tuhan rela berkorban untuk menebus dosa-dosa kita dan memberikan keselamatan bagi umatNya. Kita harus membuang jauh segala kekuatiran yang ada, sebab hidup kita berharga dan Tuhan sangat menghargai kehidupan manusia. Ketika kita yakin bahwa Tuhan sangat menghargai hidup maka kitapun percaya Tuhan akan senantiasa memeliharakan hidup umatNYa. “Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu?” karena itu
yang sepatutnya kita lakukan hanyalah bersyukur. (AE)

Refleksi :
Hidup yang menghargai Tuhan adalah hidup yang bersyukur.

Senin, 29 Desember 2014

MAKNA IDENTITAS

“ karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas-kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
( Kolose 3:14,17 )

Dalam berbagai kepentingan dan urusan tertentu di era sekarang ini surat-surat yang berkaitan dengan identitas diri sangat diperlukan. Baik itu KTP, SIM, Akte Kelahiran, Surat Baptis, Surat Sidi, Ijazah dll diperlukan saat kita mendaftar sekolah, melamar pekerjaan, dan keperluan lainnya. Kenapa diperlukan? Surat identitas diri menunjuk pada jati diri kita yang sebenarnya. Siapa nama kita, tanggal lahir, alamat, golongan darah, bahkan apa agama kita. Namun yang jauh lebih penting dan mendasar berhubungan dengan identitas diri/jati diri tentunya tidak sekedar nama, alamat dan surat-surat. Identitas diri/Jati diri berkaitan dengan “ characteristics of a person”yaitu sebuah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart dan Sundeen,1991) Identitas diri adalah komponen dari konsep diri yang memungkinkan individu untuk memelihara
pendirian yang konsisten dan karenanya memungkinkan seseorang menempati posisi yang stabil di lingkungannya (Rawlins 1993)

Dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose Paulus menegaskan identitas jemaat bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Allah yang telah dikuduskan dan dikasihiNya(ay.12) karena itu jemaat hidup sebagai ciptaan baru yang memiliki identitas diri yang baru. Seperti apa identitas selaku Jemaat Tuhan itu? Identitas/cirinya adalah: mengenakan belas-kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Karakter seperti inilah yang harus ditampilkan oleh Jemaat Tuhan di Kolose dan
tentunya juga yang perlu ditampilkan oleh Jemaat Tuhan di masa kini.

Identitas kampus kita dari sudut nama yang disandangnya sudah jelas yaitu Universitas KRISTEN. Sekarang perjuangan kita bersama adalah bagaimana memaknai nama itu supaya selaras dengan karakter kita baik sebagai individu ( pimpinan, dosen, mahasiswa dan karyawan) maupun selaku lembaga yang menyangkut kebijakan, keputusan dan peraturan-peraturan yang diberlakukan. Sudahkah semuanya memaknai kristen? (AE)

Refleksi :
Memaknai identitas kristen dengan karakter Kristus.

Selasa, 30 Desember 2014

SUNGGUH-SUNGGUH BERUSAHA

“ Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkannya di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnyadengan
mata pedang.” ( Keluaran 17:11-13 )

Mentalitas jalan pintas menjadi model atau gaya hidup masyarakat pada
jaman modern ini. Ingin cepat kaya maka jalan pintas yang dipakai dengan
cara korupsi. Ingin cepat dan mudah mendapatkan ijazah maka jalan pintas
yang ditempuh dengan cara membeli ijazah dan plagiat. Inilah gaya hidup instanyang merasuki masyarakat kita dewasa ini. Pertanyaannya, apakah mentalitas yang seperti ini keliru? Pastinya, sebab dengan mentalitas jalan pintas seringkali yang terjadi orang menghalalkan segala cara termasuk cara-cara yang tidak etis, tidak bermoral, bahkan cara-cara yang melanggar hukum ditempuh dan dilakukan. Untuk mencapai suatu tujuan diperlukan kerja dan usaha yang sungguh selain melibatkan dan menyertakan Tuhan di dalamnya.

Dalam teks bacaan Alkitab hari ini digambarkan bagaimana kemenangan bangsa Israel atas bangsa Amalek bukanlah sebuah kemenangan yang diraih dengan mudah dan lewat jalan pintas. Kemenangan Israel atas Amalek jelas adalah kemenangan yang diperoleh karena di dalamnya ada penyertaan dan pertolongan Tuhan. Tangan Musa yang terentang menggambarkan penyertaan dan pertolongan Tuhan bekerja atas
karya mereka. Tapi, yang tak boleh dilupakan dan diabaikan adalah bahwa dibelakang pertolongan Tuhan terdapat usaha dan kerja keras yang sungguh dari Musa, Harun, Hur dan seluruh bangsa Israel melalui bidang tugas dan tanggungjawabnya masingmasing. Musa mengacungkan tangan, Harun dan Hur menopang tangan Musa dengan batu di kiri dan kanan, dan segenap umat Israel berperang melawan Amalek.

Ora et Laboraadalah ungkapan latin yang sangat populer. Berdoa dan bekerja tentulah bukan ungkapan asing bagi kita warga kampus UKM. Tapi persoalan mendasar yang perlu terus direnungkan dan dijadikan bahan introspeksi, apakah kita sudah mempraktekkannya? (AE)

Refleksi :
Orang beriman adalah orang yang percaya pada pertolongan Tuhan, namun bersamaan dengan itu ia juga bersunggu-sungguh dalam berusaha.

Rabu, 31 Desember 2014

BERPIKIR KREATIF

“karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia” (2 Korintus 8:21)

Arjun ATWAL, adalah seorang pemain golf profesional asal India, ia telah
berulang kali memenangkan turnaman golf dunia. Ada satu kejadian
yang menarik saat ia mengikuti turnamen Golf kelas Dunia di Turkey
pada 2005. Atwal memang adalah seorang pemain yang handal. Hampir semua pukulan pukulannya sangat bagus, bolanya selalu jatuh pada sasaran yang ia inginkan. Namun sungguh malang baginya, ketika dalam turnamen bergengsi itu, salah satu pukulan bolanya jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway,ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus kentang yang dibuang oleh penonton dengan sembarangan.

Lalu apa yang harus ia lakukan? Jika ia mengeluarkan bola itu dari kantong,
tentu akan dikenai penalty.Tetapi bila ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, tentu tidak akan bisa memukul dengan baik. Bisa-bisa ia justru mendapatkan hasil skor yang jauh lebh buruk lagi dari yang diharapkan.

Bila ada pemain yang mengalami hal serupa – Tentu seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima penalty. Setelah itu mereka berupaya keras menutup penalty tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang ingin memukul bola bersama kantong kertas itu, karena resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Dengan tenang,  Atwal merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sebuah korek api. Lalu ia membakar kantong kertas itu. Ketika kantong itu habis terbakar, ia membidik sejenak, mengayunkan tongkat. Bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo. Atwal tidak
terkena penalty dan akhirnya ia memenangkan turnamen tersebut.

Dalam kehidupan Kita, ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang mampu BERPIKIR KREATIF untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan. (AE)

Refleksi :
Berfikir kreatif dan solutif adalah sebuah panggilan hidup.