MEMANDANG DARI PERSPEKTIF ORANG LAIN

Kamis, 15 Januari 2015

MEMANDANG DARI PERSPEKTIF ORANG LAIN

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut  dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hambahamba Kristusyang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.“ ( Efesus 6:5-9 )

Tak dapat dipungkiri, apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, dan apa yang kita pandang berangkat dari cara pandang atau perspektif diri kita sendiri. Kita pasti akan protes, jengkel, marah manakala hak dan kepentingan kita terganggu atau bahkan direbut oleh orang lain. Kita menjadi sangat peka ketika itu berkaitan dengan kepentingan dan hak kita. Tapi sebaliknya, masa bodoh terhadap hak dan kepentingan orang lain. Bahkan konflik pasti akan terjadi manakala ada dua fihak atau lebih yang masing-masing mempertahankan hak dan kepentingan. Misalnya, seorang anak akan merasa jengkel kepada orangtuanya saat kepentingannya ( soal kebebasannya) dibatasi oleh orangtuanya. Sebaliknya, orangtua marah kepada anaknya ketika hak wewenangnya merasa diabaikan oleh anaknya. Demikian juga antara karyawan dan pimpinan. Persoalan hak dan kepentingan seringkali menjadi sumber persoalan.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini dijelaskan tentang model hubungan antara hamba dan tuan. Hamba-hamba diminta untuk mentaati tuannya dengan takut, gentar, dan tulus hati seperti kepada Kristus. Demikian juga kepada tuan-tuan, perbuatlah juga demikian kepada mereka, ingatlah bahwa Tuhan kamu dan mereka ada di Sorga dan tidak memandang muka. Jadi prinsip hubungan yang sehat antara tuan dan hamba adalah masing-masing melakukannya sama seperti kepada Kristus. Pedoman ini ingin menekankan hubungan antara pimpinan dan karyawan adalah hubungan timbal balik, hubungan yang berpusat pada Kristus, dan kemampuan menilai, melihat, dan memandang dari perspektif orang lain.Karyawan bekerja secara maksimal dan profesional, dan pimpinan (majikan) memberi upah sesuai dengan kemampuan dan profesionalitas karyawannya. (AE)

Refleksi:
Mari kita belajar melihat dan memandang dari perspektif orang lain.