CAWAN ALLAH DERITA KRISTUS DISALIB

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia-supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci–: “Aku haus!” (Yohanes 19:28)

Pada umumnya banyak orang yang menginginkan ketika meninggal dalam keadaan yang tenang misalnya meninggal di antara keluarga yang mengasihi, meninggal dalam kondisi tertidur, atau bahkan seperti cita-cita banyak aktivis pelayanan yakni meninggal pada saat melakukan pelayanan di gereja atau persekutuan. Sebaliknya tidak ada satupun yang menghendaki meninggal dalam keadaan mengenaskan yaitu kecelakaan parah, mengalami penyakit yang mematikan, atau dibunuh dengan sadis dalam perang. Namun sungguh apa yang terjadi pada Yesus Kristus, jika kita hidup di jamanNya, adalah sesuatu yang terjadi di luar nalar kita. Bukankah Ia seorang Mesias, yang melakukan banyak kebaikan dalam pekerjaan kerabianNya, memberikan pengajaran yang mulia, memperjuangkan kelompok-kelompok minoritas, memberikan sebuah penghargaan bagi para pendosa untuk bisa mengalami kesempatan berubah dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun jutsru semua hal itu terlupakan, dan Ia harus melewati sebuah proses aniaya besar di sepanjang jalan menuju Golgota. Dan ayat di atas adalah sebuah kesimpulan yang sangat tragis dan menyedihkan yang keluar dari mulut Yesus sendiri, yang menjelaskan di akhir ajalNya. Betapa menderita akhir kehidupanNya. Dia merasakan tubuh yang hancur akibat penyiksaan, tubuh dan jiwa yang kehausan sebab Bapa sendiri seolah-olah meninggalkan diriNya ketika Ia berseru Eli-Eli Lama Sabhaktani. Yesus tiada bisa memilih selain dari cawan yang sudah disediakan Allah bagi diriNya. Mungkin kita tidak mesti didaulat mengalami penderitaan yang sama seperti yang dialami oleh Yesus Kristus. Namun semestinya kita bertanya, cawan apa yang sudah disediakan bagi Allah Bapa dalam kehidupan kita? Cawan yang berisi tentang realitas hidup yang harus kita hadapi yang sejalan dengan apa yang sudah direncanakan Allah bagi kehidupan kita. Sebagai warga kampus, sanggupkah kita meminum isi cawan tersebut untuk kepenuhan panggilan hidup kita seperti yang telah direncanakan Allah bagi kehidupan kita.(RAP)

Refleksi : Hidup orang percaya akan serupa dengan Kristus.