INTELEKTUALITAS

Rabu, 28 Januari 2015

INTELEKTUALITAS

“ Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutandan segala burung di udara.Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhlukyang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan,”
(Kejadian 2:19-20a)

Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume
sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi
tubuh homeostasisseperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Kalau manusia bisa menciptakan komputer atau chip yang bisa memuat beribu2 atau berjuta2 giga, bagaimana dengan otak manusia sendiri?John von Naeumann (ilmuwan, matematikawan, insinyur, birokrat) asal Universitas Yale, pada 1956 telah memperkirakan kapasitas otak manusia adalah 35 exabyte (1 exa = 1000 peta = 1 juta tera = 1 milyar giga) Kapasitas ini bisa di upgrade sesuai kemauan dan kemampuan manusianya. (sumber : wikipedia)

Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki kemampuan intelektualitas yang sangat tinggi. Manusia pertama ketika memberi nama kepada setiap mahluk hidup tentu saja berdasarkan pemikiran dia. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal Allah ingin agar manusia menggunakan kapasitas yang sudah diberikan kepada manusia. Menurut anggapan kuno, nama menentukan kodrat sesuatu, kedudukan serta fungsinya di alam yang tercipta. Bahwa manusia menentukan nama-nama mahluk lain-lainnya, berarti bahwa manusia oleh Allah ditempatkan diatas mahluk-mahluk itu termasuk dari segi intelektualitas.

Di dunia ini tidak ada manusia yang bodoh, yang ada adalah manusia yang malas dan yang rajin. Allah sudah memberikan kepada manusia otak yang dapat berfungsi dengan sangat luar biasa. Sudahkah kita gunakan secara maksimal untuk kemuliaan Allah? (RCM)

Refleksi :
Maksimalkan intelektualitas kita sesuai kehendak Allah