DERITA MEMBAWA BERKAH

Ia meneguhkan janji-Nya “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
(1 Petrus 2:24)

Suatu waktu seorang anak pernah melihat raut wajah ayahnya yang pulang dari pekerjaannya, dalam kondisi yang letih, seolah-olah kehabisan tenaga: duduk dengan wajah yang lesu. Meskipun itu hanya sebuah momen sekejap, hal itu menjelaskan suatu hal yang sangat mendalam bagi anak itu bahwa betapa ayahnya mengasihi keluarga, bekerja keras untuk mencukupi keluarga, dan ini sebuah contoh bagaimana ayah yang mau berkorban bagi kebahagiaan keluarganya. Yesus Kristus telah mati bagi kita semua. Ia mati bagi segala dosa-dosa kita. Rasul Petrus menjelaskan sebuah kondisi yang menarik pada ayat di atas, tidak langsung pada tujuan akhir penebusannya saja, melainkan juga sebuah proses aniaya yang di alami Yesus. Ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhNya sebab hantaman benda-benda tajam yang mendera tubuhNya, sangat buruk jika kita melihat seluruh kulitNya hancur dan berdarah. Belum lagi paku dan tombak yang menembus pergelangan tangan dan lambungNya. Ternyata bagi pemahaman Rasul Petrus, itulah yang menyembuhkan kita. Menurut bahasa asli menyembuhkan (Yunani= iaomai) bisa diterjemahkan secara literal menyembuhkan penyakit secara fisik atau secara kiasan menjelaskan tentang bagaimana pribadi yang hancur akibat dosa dipulihkan. Penderitaan memiliki seni yaitu ujungnya kemuliaan, pertanyaannya maukah kita hidup menderita sekarang? Menderita demi tujuan mencapai kebahagiaan bagi orang-orang yang kita kasihi? Jika kita sebagai orang tua, kita bekerja keras untuk mencukupi kehidupan keluarga kita. Jika kita sebagai dosen kita mempersiapkan sebaik mungkin materi yang hendak kita ajarkan. Jika kita sebagai seorang pelayan Tuhan, memperhatikan orang-orang yang sudah percayakan kepada kita untuk menerima pelayanan rohani yang baik. Percayalah bahwa seluruh jerih payah yang kita lakukan akan menuai hasil kemuliaan bagi kehidupan kita dan mereka yang ada di sekeliling kita.(RAP)
Refleksi:
Siap menderita berarti menikmati seni kehidupan.