PANGGILAN BERDAMAI

Kamis, 3 April 2014

PANGGILAN BERDAMAI

“Tinggalkanlah persembahanmu di atas mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Matius 5:24)

Hidup keberagamaan kita dipenuhi upacara-upacara ritual. Salahkah? Tentu saja tidak, karena memang dalam kehidupan keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan-kegiatan ritus keagaamaan. Dari jaman agama-agama purba, animisme, dinamisme sampai ke jaman agama politheisme dan monotheisme, upacara-upacara keagamaan merupakan kegiatan yang menyatu dengan agama itu sendiri. Termasuk kekristenan memiliki kekayaan tradisi ritus yang dimiliki oleh berbagai denominasi gereja. Namun hal terpenting yang perlu diingat dalam keberagamaan kita adalah jangan sampai upacara-upacara keberagamaan yang kita lakukan hanya sekedar formalitas, hanya sekedar kultis, bukan etis. Ibadah atau keberagamaan yang benar adalah ibadah yang terjadi dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari dan berlaku dalam segala aspek kehidupan. Pada bagian bacaan Alkitab hari ini, penulis injil Matius menyatakan bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, tapi Yesus datang justru untuk menggenapinya. Butir yang penting dari bacaan Alkitab ini adalah bahwa keberagamaan itu tidak boleh berhenti pada pengetahuan tentang hukum. Kekristenan tidak boleh stop pada pengetahuan dan ketaatan pada hukum Taurat. Kekristenan tidak stagnan pada persembahan di atas mezbah dengan membawa sembahan berupa kambing, lembu, dan sapi. Penting bagaimana kita berdamai dengan saudara kita, menciptakan suasana hidup yang ramah, sejahtera, harmonis dan kondusif. Itulah sebabnya dikatakan, orang yang membunuh akan dihukum, tapi orang yang marah kepada saudaranya juga harus dihukum. Karena itu pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Hidup kita sekarang ini memang semakin kompleks, banyak terjadi perbedaaan pandangan yang berpotensi terjadi konflik (termasuk di institusi kita UK.Maranatha), tapi sebagai pengikut Yesus kita selalu diingatkan bahwa sekalipun ada perbedaaan, kita harus bisa selesaikan secara damai.(AE)

Refleksi : Sudahkah kita hidup dalam perdamaian dengan orang di sekitar kita?