MELAWAN WAKTU KEBODOHAN

2015-03-27

MELAWAN WAKTU KEBODOHAN

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai
kamu pada waktu kebodohanmu.
(I Petrus 1:14)”

Anda tentu memahami makna khilaf. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
kata khilaf dijelaskan sebagai melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
Dalam definisi asumsi keseharian kata tidak sengaja juga dimaknai tidak
disadari. Ada banyak kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan,
atau tindak kejahatan korupsi yang dalam fakta persidangan kemudian muncul
pengakuan kata khilaf dari pelaku. Pelaku merasa dibutakan oleh keinginan yang
sangat kuat atau oleh kemarahan, dan melakukan sesuatu tanpa ia sendiri sadar apa
yang dilakukannya, meskipun bisa jadi pengakuan itu hanya sebuah alasan saja.
Rasul Petrus memiliki pengalaman yang sangat menarik dalam kehidupannya.
Ketika ia dikuasai kemarahan dan memotong telinga Kayafas dengan pedang demi
membela gurunya, atau sebaliknya ketika ia malah menyangkali Yesus saat berada
di sekitar di mana Gurunya tersebut mengalami aniaya. Dalam teks di atas tertulis
hawa nafsu atau dalam bahasa aslinya epithumiam yang artinya keinginan terhadap
hal-hal yang dilarang, biasanya memang tidak sejalan dengan nalar atau akal sehat
kita. Pikiran kita tahu apa yang baik tapi hawa nafsu membimbing kita ke jalan yang
lain, dan itulah yang disebut oleh Rasul Petrus dengan “waktu kebodohan” atau
sebuah waktu di mana kita tidak menuruti akal sehat selain kesenangan diri kita
sendiri saja, tanpa menghitung akibatnya.
Banyak pendeta-pendeta yang sangat besar pengaruhnya, kita sebut saja salah
satunya Jimmy Swaggart, yang memiliki pelayanan yang sangat luar biasa: tampil
di depan publik, seorang pendeta, pemusik, pembicara terkenal dengan pelayanan
penginjilan media yang sangat besar. Kemudian ia jatuh dalam kebodohannya
dengan melakukan hubungan tidak resmi dengan seorang perempuan sekretarisnya.
Di Alkitab ada dua kisah menarik antara Yusuf dan Samson. Mereka memberikan
respon yang berbeda pada saat kebodohan datang menghampiri mereka. Samson
menyambut hawa nafsunya bersama Delilah, sedang Yusuf menolak bahkan lari dari
cengkeraman istri Potifar.
Refleksi :
Sanggup melawan musuh dalam diri kita pada masa kebodohan datang menghampiri
kita adalah sebuah kemenangan yang sangat besar.