KETELANJANGAN MANUSIA

2015-04-26

KETELANJANGAN MANUSIA

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah
engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman
ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
(Kejadian 3:9-10)”

Mari kita perhatikan sejenak, mengapa anak kecil tidak malu telanjang di
depan orang tuanya, atau bahkan di depan orang lain. Mereka berlarian
dengan riang tanpa celana, seolah-olah itu hal biasa saja. Namun seiring
dengan usia tentu saja mereka tidak terus melakukannya. Ada rasa malu atau bahkan
tidak lazim yang menahan mereka untuk tidak melakukan hal tersebut. Dan yang
terakhir manusia hanya tidak malu telanjang di depan pasangan (suami atau atau
istrinya). Artinya sebuah ketelanjangan tidak bisa dilakukan sembarangan kecuali
kepada pasangan intimasinya.
Ayat di atas menjelaskan sebuah kondisi ketika manusia jatuh ke dalam dosa.
Manusia jatuh ke dalam tipuan ular untuk makan buah pengetahuan, melawan
perintah Allah. Setelah makan buah itu manusia tersadar akan kondisi dirinya dan
menyebut dirinya telanjang. Itulah sebabnya ia bersembunyi ketika mengetahui
Allah sedang mencari mereka. “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku
mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku
telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Padahal seharusnya hubungan Allah dengan
manusia adalah sebuah hubungan yang sangat dekat, sebab memang demikianlah
tujuan manusia diciptakan. Namun hal tersebut tidak lagi demikian. Manusia
berdosa dan kehilangan kedekatan dengan Allah dan mereka merasa malu dengan
kondisinya. Manusia merasa rendah diri, dan tidak layak.
Mungkin dalam kehidupan ini ketelanjangan itu bukan dalam artian harafiah, namun
seringkali kita tidak mampu lagi menghadap kepada Allah, kita kehilangan kedekatan
hubungan dengan Allah, sebab kita merasa tidak layak sebab kita melakukan banyak
kesalahan dalam kehidupan kita. Namun demikian meskipun kita tidak lagi mencari
Allah sebab keterbatasan itu, Allahlah yang berinisiatif pertama mencari manusia
sejak permulaannya. Dan lebih ekstrim lagi Allah turun ke dunia untuk mencari
mereka yang terhilang. (AT)
Refleksi :
Rasa rendah diri tidak membuat kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Percaya
membuat kita menjadi anak-anakNya.