KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

2014-04-27

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati
mendahului kehormatan.
(Amsal 18:12)”

Bagi manusia yang berjiwa arogan mungkin agak sulit memahami ayat ini. Ah
masak sih? Bukankah kita harus menunjukkan diri kita agar kita lebih dihargai
oleh orang lain? Bukankah kebanyakan orang menghargai hanya pada kelebihan
orang lain? Misalnya pada kekayaan, kesuksesan, jabatan dan lain sebagainya.
Bukankah itu adalah prestasi yang harus dibanggakan? Untuk orang pahit hati dan
kurang berprestasi ayat ini bisa menjadi senjata untuk menghakimi orang lain.
Namun kedua-keduanya pemahaman di atas belum menyentuh esensi dari ayat di
atas.
Amsal adalah sebuah kitab hikmat yang dituliskan oleh orang yang paling berhikmat
di dunia pada jaman Perjanjian Lama yakni Raja Salomo. Namun diakhir perjalanan
hidupnya, justru hatinya menjauh dari Allah. Raja Salomo mencintai banyak
perempuan asing para perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
padahal dalam konteks jaman itu Allah melarang hal itu terjadi. Hati Salomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai 700 isteri dari kaum bangsawan
dan 300 gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Tidak sampai
disitu ia mulai meninggalkan penyembahan kepada Allah dan mengikuti dewa-dewa
yang dibawa oleh para istrinya. Hukuman yang paling menghancurkan kehidupan
Salomo adalah bahwa Allah mencabut hak Salomo untuk membangun bait Allah.
Hidup ketika berada di atas, ketika kejayaan, kesuksesan menghampiri kita
dengan sangat luar biasa, bak kapal Titanic sebelum berlayar menuju laut Artic,
sang kapten berseru: “Kapal ini sangat besar, bahkan Tuhan tidak akan sanggup
untuk menenggelamkannya.” Nyata, sebuah gunung es kecil di permukaan laut
merobek buritan kapan dan menenggelamkannya. Sebaliknya melalui ayat ini Allah
mengajarkan sikap kerendahan hati, di mana melaluinya kita bisa tetap menjadi
mawas diri, dan tidak jatuh dalam kesombongan. Mungkin ada hal baik menjadi
sombong, agar orang lain tidak macam-macam dan lebih menghargai kita, selain kita
menghargai prestasi yang telah kita raih, namun itu justru menjadi boomerang dan
membuat kita tidak hati-hati dalam melangkah, seperti raja Salomo. (AT)
Refleksi :
Kesombongan seolah-olah membawa kita ke tempat yang tinggi, namun pada saat
yang sama sedang membawa kita meluncur ke bawah dengan sangat keras.