INGIN MENJADI MANUSIA

2015-04-30

INGIN MENJADI MANUSIA

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
(Filipi 2:5-7)”

Dalam sejarah manusia ada banyak manusia yang ingin menjadi Tuhan. Salah
satunya adalah kaisar Nero yang memerintah kekaisaran Romawi. Beberapa
keyakinan ajaran atau aliran keagamaan juga menjelaskan beberapa proses
bagaimana manusia bisa menjadi Tuhan. Keyakinan dunia modern yang tiada
bertuhan secara agamis meletakkan manusia sendiri sebagai pusat, atau dengan kata
lain dirinya sendiri menggantikan peran Tuhan, atau dia adalah Tuhan bagi dirinya
sendiri. Semua orang ingin menjadi Tuhan jika dipahami secara mendalam adalah
menuju ke titik kesempurnaan pemahaman akan kebenaran, atau untuk menggapai
kekuasaan atau kendali baik bagi orang lain maupun terhadap dirinya sendiri.
Namun penjelasan di atas sangatlah berbeda dari yang ada kebanyakan. Jika
kebanyakan manusia ingin menjadi Tuhan, maka dalam ayat di atas adalah Tuhan
ingin menjadi manusia. Ada banyak sekali refleksi teologis dari pernyataan Tuhan
menjadi menjadi manusia, yang salah satunya sesuai dengan renungan hari ini adalah
keinginan Tuhan untuk melayani manusia di dalam diri Yesus Kristus. Dalam proses
menjadi manusia Yesus harus mengorosngkan diriNya, mengambil rupa seorang
hamba dan menjadi sama dengan mereka.
Jika Tuhan saja ingin menjadi manusia, mengapa manusia ingin menjadi Tuhan?
Jika manusia ingin menjadi Tuhan seringkali alasannya adalah kesombongan. Allah
menjadi manusia memberikan keteladanan tidak hanya tentang kerendahan hati
yang sangat luar biasa, namun juga keinginanNya untuk melayani manusia dengan
sempurna. Kita sebagai orang percaya tidak perlu menjadi Tuhan, sebab Tuhan
sudah mengangkat kita menjadi anak-anakNya. Yang paling penting sekarang adalah
bagaimana kita mengikuti teladan Yesus Kristus dalam kerendahan hatinya dan
keinginanNya melayani sesama dengan sempurna. (AT)
Refleksi :
Kerendahan hati dan keinginan untuk melayani adalah sifat Allah dalam Yesus
Kristus.