DIAM = BIJAK??

2015-05-31

DIAM = BIJAK??

“Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka
berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya”.
(Amsal 17:28)”

Apakah tanda orang bijak? Berdiam dirikah? Berdiam dan berdiam dan berdiam
saja? Orang bijak berdiam diri ketika dia tahu persis bahwa dia harus berdiam
diri, tetapi orang bijak pun take action ketika dia tahu persis kapan dia harus
melakukan sesuatu selain berdiam diri. Orang bijak mendengar dan menambah ilmu
(Amsal 1:5), memperlihatkan langkahnya (Amsal 14:15), dll.
Jelaslah, jawaban saya atas pertanyaan yang merupakan judul renungan kita hari
ini adalah “tidak selalu”. Mengapa Raja Salomo menuliskan kebenaran tersebut?
Mungkin jawabannya ada orang bodoh yang cukup pandai bersandiwara, sehingga
dengan berdiam diri mereka dianggap bijak di tengah lingkungan yang berasumsi
demikian, di tengah lingkungan yang memiliki nilai hidup “silent is golden”. Tahukah
kita, bahwa yang benar, yang benar-benar “golden” adalah tahu kapan harus bicara,
kapan harus diam, karena tidak selamanya diam adalah emas, lagipula ada pepatah
lain yang berbunyi tidak semua yang berkilau adalah emas. Jadi, diam saja ketika
tindakan dibutuhkan justru menunjukkan ybs. adalah bodoh, bukan bijak.
Sebagai mahasiswa, dosen, pejabat struktural, orang tua mahasiswa, atau siapapun
yang berandil dalam bidang pendidikan di kampus ini, hendaknya kita bersama
sebagai anak-anak Tuhan bertumbuh dalam hikmat. Janganlah kiranya kita
berpatokan mati pada hikmat manusia, moto, atau hal-hal lain yang diyakini benar,
padahal semua itu tidak bersumber dari Firman Allah, yang sepatutnya menjadi
pegangan hidup kita. (PO)
Refleksi :
Hendaknya kita tidak menilai orang dari penampilan luarnya, melainkan harus
mengujinya. Dan, marilah kita menjadi orang yang bijak!