PANGGILAN MENGUSAHAKAN KEADILAN

Sabtu, 5 April 2014

PANGGILAN MENGUSAHAKAN KEADILAN

” Belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim, perjuangkan perkara janda-janda.”
(Yesaya 1:17)

┬áKeadilan, hari-hari belakangan ini seakan-akan menjadi barang langka. Kenapa barang langka? Keadilan sulit untuk dicari dan ditemukan. Lembaga-lembaga peradilan di negeri ini yang seharusnya menjadi tempat di mana orang dapat mencari dan mendapatkan keadilan, yang terjadi justru lembaga lembaga tersebut sebagai tempat maraknya terjadi ketidak-adilan. Bahkan baru-baru ini, pada saat renungan ini ditulis bangsa kita tengah digoncang (tanpa bermaksud mengabaikan azas praduga tidak bersalah) oleh kasus suap korupsi di Mahkamah Konstitusi(MK). Kasus di MK ini melibatkan langsung sang ketua MK yang tertangkap tangan menerima suap dari kasus pemilukada yang ditanganinya. Kenapa ketidak-adilan marak terjadi? Beberapa alasan dikemukakan sebagai penyebab ketidak-adilan, diantaranya semakin menguatnya sikap hidup masyarakat yang semakin individualistik dan konsumeristik, juga dikarenakan karena orang belum “dimerdekakan” secara rohani; atau belum mengalami pertobatan. Perikop Alkitab hari ini merupakan suara ajakan Allah kepada umat melalui Yesaya. Yesaya menyampaikan suara Tuhan kepada umat supaya umat bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tuhan tidak menghendaki umat menjalani ibadahnya hanya secara seremonial dan formalitas. Tuhan menyatakan bahwa Ia benci terhadap persembahan-persembahan lembu jantan, dan terhadap korban-korban yang diberikan. Tuhan juga jijik terhadap persembahan kambing domba jantan. Yang diinginkan Tuhan adalah belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim dan perjuangkanlah perkara janda-janda. Persembahan yang benar adalah kehidupan yang memperjuangkan dan mempraktekkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan yang paling konkrit. Kita umat Tuhan dan sebagai warga kampus dipanggil untuk menjalani hidup yang benar dan adil. Tidak hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan. (AE)

Refleksi:
Sudahkah kita hidup Adil dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama?