PENDENDAM

2015-06-11

PENDENDAM

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap
orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri; Akulah TUHAN.”
(Imamat 19:18)”

Beberapa waktu yang lalu sebuah tayangan talkshow “Mata Najwa” mengundang
para nara sumber dari sanak keluarga dan orang tua korban pembunuhan.
Mereka dimintai informasi, pendapat dan harapan tentang proses pengadilan
yang berlangsung terhadap para terdakwa yang telah membunuh keluarga mereka.
Salah satu nara sumber itu diantaranya orang tua almarhumah Ade Sarah yang
dalam pemberitaan beberapa waktu lalu menyatakan memaafkan tindakan dua
terdakwa yang membunuh anaknya. Pernyataan tersebut sangat mengundang
simpati dan kagum atas ketegaran hati kedua orang tua almarhumah Ade Sarah
ini, yang menurut banyak orang akan sangat wajar kalau kedua orang tua ini sangat
marah, dendam dan menuntut pihak yang berwajib untuk menghukum dengan
seberat-beratnya. Kebetulan memang keluarga Ade Sarah adalah pengikut Kristus
yang aktif berjemaat di gerejanya.
Sebagai pengikut Kristus memang tidak seharus menaruh dendam kepada siapa
pun yang bersalah kepada kita. Dalam Imamat 19:18 di bawah judul perikop
“kudusnya hidup”, bahwa kekudusan hidup kita juga ternyata tidak hanya melulu
pada keharusan rajin berbakti, memberikan persembahan dan ritual ibadah-ibadah
lainnya. Namun, justru kekudusan hidup ini didasari atas kasih terhadap sesama
manusia, kasih yang tidak menuntut balas dan menuntut dendam atas kesalahan
orang lain kepada kita. Pengadilan bukan suatu tempat dan kesempatan kita untuk
membalas dendam kepada si terdakwa karena perbuatan-perbuatannya. Namun
makna kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri itu memiliki makna
memperlakukan orang lain secara adil sama seperti dia sendiri mau diperlakukan.
Dengan demikian sikap dendam tidak membawa manfaat apapun buat kita, selain
kita terus menderita dan sikap ingin terus melampiaskan dendam yang tidak
akan pernah ada habisnya kepada orang yang telah merugikan diri kita. Sikap
mengasihi sesama manusia inilah yang dikehendaki oleh Kristus, yang Kristus sendiri
memberikan bobot yang sama dengan mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati
dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. (ITW)
Refleksi :
Mengasihi Tuhan ““ mengasihi sesama, lebih sungguh!