KIKIR (2 Korintus 8 : 1 – 7)

2015-06-12

KIKIR
(2 Korintus 8 : 1 – 7)

“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap
dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”
(2 Korintus 8:2)”

Kikir atau pelit, artinya seseorang yang cenderung mau menerima banyak
dan bila mungkin sebanyak-banyaknya, namun sulit untuk berbagi atau sulit
mengeluarkan dan melepas apa yang sudah digenggamnya. Sifat kikir ini
biasa dibarengi juga dengan kecenderungan untuk bernafsu rakus, semua diingini,
semua dia kumpulkan untuk dirinya sendiri walau baginya hal tersebut belum tentu
diperlukan, dan dia enggan bahkan sedapat mungkin tidak memberikan apa yang dia
punya itu bagi orang yang sedang sangat memerlukan.
Dalam bacaan hari ini, kita melihat bagaimana jemaat-jemaat Makedonia mengalami
beratnya pelbagai pencobaan dan mereka sangat miskin, namun mereka mempunyai
kekayaan dalam hal kemurahan hati. Kemurahan hati tidaklah bergantung pada
seberapa banyak harta yang kita miliki, yang namanya orang kaya ataupun orang
miskin ada yang kikir atau pelit, bahkan kadang semakin dia kaya maka semakin pula
dia menjadi pelit. Namun dibalik itu ada juga orang yang kaya dan miskin yang samasama
mempunyai kemurahan hati. Semuanya itu terletak pada hati kita, apakah kita
dipenuhi dengan rasa cukup? Atau kah hati kita selalu merasa kurang? Sehingga
yang kita lakukan adalah mau berbagi atau kita terus mencari.
Mari kita lihat dengan sejujurnya, apakah selama di kampus Maranatha ini, kita selalu
merasa berkekurangan ataukah kita sudah merasa cukup? Atau bahkan berlebih?
Karena pada saat kita selalu merasa terus berkekurangan, maka kita sulit untuk
berbagi dan menjadi semakin kikir untuk berbagi, tangan kita tidak mau terbuka ke
bawah, tapi selalu terbuka ke atas, menengadah dan selalu minta dikasihani. Namun
pada saat kita merasa berkecukupan walau kita miskin sekali pun, kita senantiasa
bersukacita, tangan kita selalu terbuka untuk memberi. (AG)
Refleksi :
Mari kita perhatikan, apakah kita orang yang kikir atau murah hati?