PERANGAI YANG KASAR VS SIKAP YANG LEMAH LEMBUT

2015-06-16

PERANGAI YANG KASAR VS SIKAP YANG LEMAH LEMBUT

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”
(Matius 5:5)”

Ada masanya ketika dunia dikuasai oleh orang-orang yang kasar seperti Adolf
Hitler, Benigto Musolini, Sadam Hussein, dan masih banyak lagi mereka yang
menggunakan kekerasan untuk menundukkan baik bangsanya sendiri maupun
bangsa-bangsa lain. Namun jaman terus beralih, dan kekuatan itu tidak lagi ada pada
benteng-benteng yang kokoh, atau tentara yang kuat, atau senjata yang mematikan.
Kekuatan itu berubah menajdi sebuah pena kecil namun mampu menundukkan
bangsa-bangsa yang dulunya kuat, yakni kekuatan diplomasi. Baru-baru ini bangsa
kita dihadapkan pada pemilihan Presiden dengan dua karakter kandidat yang
berseberangan, yang satu figur yang rendah hati dan yang lain figur dengan latar
belakang militer yang tegas. Ternyata bangsa ini menjatuhkan pilihannya pada
Presiden yang lemah lembut, sederhana dan merakyat.
Injil Matius mencatat ketika Yesus berkotbah di atas bukit, bagian pertama yang
disampaikannya adalah ucapan berbahagia, atau blessed atau diberkati (Yunani
= makarios), kemudian diikuti dengan sikap-sikap atau tindakan yang dikehendaki
Allah, yang salah satunya adalah kata yang dalam bahasa aslinya adalah praus yang
diterjemahkan lemah lembut, atau bisa juga menjelaskan kata humble atau rendah
hati. Yesus mengatakan bahwa mereka dengan sikap-sikap yang salah satunya
rendah hati atau lemah lembut itu itu adalah orang-orang yang akan memiliki bumi
(dalam bahasa aslinya kleronomeo) diterjemahkan inherit atau mewarisi.
Lemah lembut bukan berarti pendirian Anda bisa diombang-ambingkan. Sikap
lemah lembut atau rendah hati yang dimaksud tentu adalah bagaimana kita
memperlakukan sesama. Jika kita tidak memiliki pandangan bahwa sosok orang lain
juga memiliki perasaan yang sama dengan kita, maka dengan mudah kita menjadi
orang yang berperilaku kasar bahkan kepada orang yang paling dekat dengan kita
sekalipun. Namun ketika kita memahami bahwa manusia lain adalah sama seperti
kita, bahkan kita menganggap mereka juga adalah ciptaan Tuhan maka kita akan
mulai belajar memiliki sikap yang lemah lembut dan rendah hati terhadap sesama
kita. Dan mereka memang pantas untuk mewarisi dunia ini. (AT)
Refleksi :
Mari kita hargai setiap insan manusia sebab mereka juga adalah ciptaan Tuhan.