SPEED AND PROPER

2015-07-23

SPEED AND PROPER

“Lalu Ishak menjawab Esau katanya: ” Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi
tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi
hambanya”¦”
Kejadian 27: 37a”

Speed and proper (Cepat dan Tepat) ““ adalah motto yang digunakan oleh suatu
perusahaan di London untuk menyatakan bagaimana pelayanan harus dilakukan
oleh perusahaan tersebut kepada para pelanggannya. Motto ini bisa diartikan:
jika mau mendapatkan yang terbaik, maka segala tindakan harus dilakukan dengan
cepat dan tepat. Seringkali kita terbuai oleh berbagai kesibukan, sehingga tidak
mempedulikan keadaan di sekeliling kita, termasuk ancaman yang dekat dengan
kita. Akibatnya tujuan pun urung tercapai.
Dalam Kejadian 27:40b, “Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha
sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.”
Perhatikan, ayat itu merupakan kalimat aktif. Terdapat dua kata “engkau” dan satu
kata “mu”. Kata “engkau” dan “mu” ditujukan kepada Esau oleh ayahnya, Ishak.
Kapan? Ketika Esau, yang merasa telah terperdaya oleh Yakub, meminta berkat yang
tersisa dari ayahnya. Penting pula diperhatikan bahwa Allah tidak menyingkirkan
berkat Esau begitu saja, meskipun Esau menyerahkan hak kesulungannya kepada
Yakub ketika dia pulang dari berburu dan merasa lapar. Kita tentu ingat bagaimana
kisah Esau menukarkan masakan kacang merah dengan hak kesulungannya. Esau
setuju dengan mengatakan: “Sebentar lagi aku akan mati, apakah gunanya bagiku
hak kesulungan itu?”. Bahkan pada Kejadian 25:34, dikatakan: “Esau memandang
ringan hak kesulungan itu”. Apa yang dilakukan Esau jelas menggambarkan sikap
yang cepat tapi tidak tepat. Disinilah kita belajar bagaimana Esau bersikap masa
bodoh akan hak sulung yang dimilikinya. Berbeda dengan pribadi Yakub yang lebih
tenang. Ia lebih suka tinggal di kemah sehingga bila dibandingkan dengan Esau, ia
lebih lemah dalam kekuatan dan kemampuan. Disinilah juga kita belajar bahwa
Allah tidak meninggikan atau memberi berkat sebagaimana cara pandang manusia.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah telah mengaruniakan anugerahNya pada
kita di dalam pribadi Yesus, tapi apabila kita menjual anugerah itu untuk sesuatu
yang bersifat sementara, maka kita membuka pintu bagi orang lain untuk merampas
anugerah itu. Atas segala anugerah yang telah diberikan-Nya kepada kita secara
cuma-cuma, kita harus takut akan Tuhan (taat), bersyukur, dan setia. Janganlah
kita bersikap masa bodoh dan “menjual” anugerah yang diberikan-Nya hanya untuk
kesenangan sesaat.(RPA)
Refleksi :
Jangan bersikap masa bodoh atas anugerah yang telah diberikan-Nya secara cumacuma.