HATI YANG TULUS

2015-07-25

HATI YANG TULUS

” …kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan
Allah yang menguji hati kita?”
(1 Tesalonika 2:4b)”

Tuhan menghendaki agar kita memiliki hati yang tulus “Yesus menghendaki
kita semua menghadap Allah dengan hati yang tulus” (Ibrani 10:22). Apa yang
dimaksud dengan hati yang tulus?
Kalau kita mencari orang yang tulus hatinya di Alkitab, mungkin kita akan teringat
kepada Yusuf: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau
mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya
dengan diam-diam” (Matius 1:19). Mendengar Maria hamil sebelum mereka
melakukan hubungan suami istri, Yusuf tidak terbawa emosi dan menceraikan
Maria, akan tetapi dia melihat kepentingan Maria dan menolak melakukan tindakan
yang akan mempermalukan Maria. Setelah Yusuf mendapatkan firman bahwa
Maria mengandung dari Roh Kudus, Yusuf menerima firman Tuhan tersebut dan
mentaatinya (Matius 1:19-24). Kita juga bisa teringat kepada Paulus dalam tulisannya
di 1 Tesalonika 2:1-16. Dalam tulisannya Paulus menjelaskan ketulusan motivasinya
dalam mengabarkan injil.
Dari kedua tulisan di Alkitab itu bisa kita simpulkan pengertian tulus hati:
1. Seorang yang tulus artinya melihat kedaulatan Tuhan dalam hidupnya dan
menerima Firman Tuhan sebagai sesuatu yang harus dia taati.
2. Seorang yang tulus hatinya artinya orang tersebut tidak mementingkan
kepentingan pribadi, tetapi melihat kepentingan orang lain dan peduli akan
pengaruh tindakannya terhadap orang lain.
3. Seorang yang tulus artinya orang tersebut tidak bermulut manis dan tidak
memiliki maksud loba yang tersembunyi.
4. Seorang yang tulus artinya orang tersebut tidak mencari pujian dari manusia
walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kemampuan yang patut dipuji.
Dalam kehidupan kita sehari-hari apakah kita sudah memiliki hati yang tulus?
Menerima firman Tuhan dan mentaatinya? Tidak mementingkan kepentingan
pribadi? Peduli terhadap pengaruh kata-kata atau tindakan kita kepada orang
lain? Tidak mengeluarkan kata-kata yang merugikan atau melakukan tindakan
yang merugikan orang lain? Tidak bermulut manis dan tidak memiliki maksud yang
tersembunyi? Tidak mencari pujian dari orang lain?. (AS)
Refleksi :
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang
baik.” (Roma 12:9