HEMAT PANGKAL MISKIN, BOROS PANGKAL KAYA

2015-07-28

HEMAT PANGKAL MISKIN, BOROS PANGKAL KAYA

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya. Ada yang menghemat secara
luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi
kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan
gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual
gandum”
(Amsal 11:24-26)”

Sebuah peribahasa yang saya ingat sewaktu saya Sekolah Dasar (SD) mengatakan
hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. Renungan kita hari ini terbalik dari
hal ini. Peribahasa yang saya dengar sewaktu saya SD, saya coba balik bahwa
hemat pangkal miskin, boros pangkal kaya. Kok bisa? Mungkin pertanyaan ini hadir
dalam pikiran kita. Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh Amsal dalam perikop
kita hari ini.
Kitab Amsal ini mengatakan kepada kita bahwa bangsa Israel diminta oleh Tuhan
mempersembahkan hasil panen pertama mereka kepada Tuhan sebagai pengakuan
bahwa Dialah pemilik tanah yang mereka kelola. Kita juga harus memberikan hasil
pertama dari pendapatan kita kepada Allah supaya menghormati Dia sebagai Tuhan
atas kehidupan dan harta milik kita. Bukan hanya hasil pertama tetapi semua yang
kita miliki adalah milik Allah. Setiap bagian yang kita miliki harus secara sengaja
kita berikan kepada Allah, lewat berbagai pelayanan dan sebagainya. Dalam ayat
ini tentunya kita lihat Allah tidak mendukung pemborosan, buktinya bahwa Tuhan
menyuruh bangsa Israel untuk mengambil manna secukupnya bukan berlebihan. Yang
dimaksud dengan “menyebar harta” bukan berarti kita menghambur-hamburkan
uang begitu saja tanpa tujuan dan perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita diharapkan berbaik hati dan murah hati dengan motif yang jelas, tujuan
jelas dan perencanaan yang matang. Kalau begitu apa yang dimaksud dengan hemat?
Hemat adalah kesanggupan kita mengelola harta (uang, waktu, hidup) yang Tuhan
percayakan kepada kita secara benar untuk hal-hal yang berguna sesuai dengan
kebutuhan dan kehendakNya. Hemat berarti bisa memakai milikNya dengan tepat
untuk segala kebutuhan dan bisa mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan, baik
uang, waktu, hidup, kesempatan dan lain-lain. (cs)
Refleksi :
Mari jangan berhemat kepada Allah karena Dia yang memiliki semua yang kita
miliki, dan berhematlah terhadap dirimu, hidupmu dan waktumu!