DEMORALISASI

2015-07-30

DEMORALISASI

“untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan
kejujuran”
(Amsal 1 : 3)”

Kehidupan, sejatinya adalah perubahan. Hidup yang berkualitas (berkarakter)
sepadan dengan citra dan gambaran Allah dan menjadi pribadi yang utuh.
Namun bila menyimak apa yang digambarkan dalam sebuah tulisan sungguh jauh
dari harapan. Tulisan tersebut mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang
mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan, terutama dalam
bidang hukum, politik, sosial dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial.
Dalam kamus Sosiologi istilah karakter (charactera) adalah ciri khusus struktur dasar
kepribadian seseorang. Sementara itu dalam terminologi hukum, character evidance
yaitu nilai moral seseorang dalam masyarakat berdasarkan reputasinya sehari-hari
yang erat hubungannya dengan pendidikan karakter. Rendahnya penghormatan
terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral
kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidakpercayaan rakyat
terhadap pemerintah termasuk kepada pemuka agama.
Ironisnya, ketika budaya paternalistik menjadi ciri bangsa Indonesia namun didapati
banyak para pimpinan, pemuka agama, pendidik yang sudah tidak dapat lagi dijadian
acuan atau teladan. Rakyat seolah kehilangan figur, bingung tidak tahu membedakan
mana yang benar dan mana yang salah. Semua orang meneriakkan kebenaran
namun perilakunya jauh dari benar. Ini menjadi tantangan bagi anak-anak Tuhan
yang menjadi bagian dari bangsa ini. Adakah kita juga kehilangan identitas? Larutkah
kita di dalamnya? Atau kita masih bisa menunjukkan ciri yang khas dan jelas di tengah
terjadinya demoralisasi. Alkitab memang telah mengingatkan agar setiap anak Tuhan
tidak menjadikan seseorang sebagai panutan sebab…”semua orang telah berdosa”.
Bila seseorang dijadikan acuan maka kita akan kecewa. Salah satu lirik lagu Rohani
menggambarkan hal tersebut. Berikut ini liriknya : pandang terus pada-Nya, jangan
menoleh ke belakang, jangan memandang salah orang lain, pandang saja Yesus. Lagu
ini mengingatkan agar setiap kita menjadikan Yesus sebagai acuan, standar dalam
bersikap dan berperilaku. Biarlah Tuhan dimuliakan melalui sikap dan perilaku kita.
(SG)
Refleksi :
Apakah penilaian yang kita berikan kepada seseorang lebih didasarkan pada
kedudukan, kekayaan, atau pada sikap dan perilakunya sehari hari?